FORE Tunda Dividen 2025: Prioritas Retained Earnings & Ekspansi 100

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 11 May 2026

Tanggapan Lengkap dan Analisis Mendalam

1. Latar Belakang Keputusan Tidak Membagikan Dividen

PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) mencatat laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp 90,26 miliar, naik 54,82 % dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun kinerja keuangan menunjukkan perbaikan yang signifikan, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) memutuskan tidak membagikan dividen.

Alasan resmi yang disampaikan oleh Direktur M. Fahmi Rachmattulah adalah:

  1. Retained earnings (laba ditahan) masih negatif – artinya akumulasi kerugian historis belum sepenuhnya teratasi.
  2. Komitmen prospektus IPO yang mensyaratkan pembagian minimal 40 % laba bersih jika persyaratan keuangan (termasuk posisi earnings) terpenuhi.
  3. Kesehatan keuangan menjadi prioritas, sehingga dividen tidak dapat diberikan tanpa mengorbankan kestabilan modal.

Kebijakan ini sejalan dengan prinsip keuangan yang konservatif: perusahaan lebih memilih memperkuat ekuitas daripada menggoda pemegang saham dengan pembayaran tunai sementara fondasi keuangan belum solid.


2. Implikasi Keuangan Jangka Pendek

Aspek Dampak
Retained Earnings Mengurangi defisit earnings, memungkinkan
akumulasi laba bersih yang lebih bersih untuk mendukung pertumbuhan.
Rasio Keuangan - ROE (Return on Equity) akan meningkat karena

denominator (ekuitas) bertambah tanpa pengurangan laba.
- Debt‑to‑Equity menurun, menurunkan risiko leverage. | | Cash Flow | Cash yang biasanya keluar untuk dividen tetap tersedia untuk investasi capex dan modal kerja, mengurangi kebutuhan pembiayaan eksternal. | | Harga Saham | Short‑term pressure: investor yang mengandalkan dividen dapat menjual, menurunkan likuiditas dan potensi penurunan harga saham.
Mid‑term upside: pasar dapat menghargai prospek ekspansi dan perbaikan fundamental, mendorong price appreciation. |


3. Strategi Ekspansi: 100 Gerai Baru + Bisnis Donut

3.1 Alokasi Capex

  • Total Capex 2026: Rp 250 miliar (Rp 200 miliar untuk kopi, Rp 50 miliar untuk donut).
  • Sumber dana:
    • Dana IPO: Rp 353,44 miliar, di mana Rp 2,05 miliar telah dipakai untuk outlet baru. Sisanya (Rp 335 miliar) ditempatkan di Bank Mandiri dengan bunga 6,25 % p.a. dan siap di‑drawdown untuk ekspansi.
    • Cash flow operasi: Laba bersih 2025 turut menambah likuiditas.

3.2 Rationale Bisnis

Faktor Penjelasan
Segmen Kopi FORE telah memiliki brand yang kuat di segmen

specialty coffee. Ekspansi 200 outlet baru menargetkan penetrasi pasar di kota‑kota tier‑2 dan tier‑3, di mana kompetisi masih relatif rendah. | | Segmen Donut | Diversifikasi produk untuk meningkatkan average transaction value (ATV) dan frekuensi kunjungan. Donut menjadi “pairing” yang meningkatkan margin kotor (margin produk donat biasanya > 30 %). | | Skala Ekonomi | Peningkatan volume pembelian bahan baku (biji kopi, gula, tepung) memungkinkan negosiasi harga yang lebih baik, menurunkan cost of goods sold (COGS). | | Sinergi Operasional | Gerai kopi dan donut dapat berbagi infrastruktur kitchen, logistik, serta SDM, mengoptimalkan OPEX. |

3.3 Risiko & Mitigasi

Risiko Mitigasi
Over‑expansion – risiko outlet kosong atau penjualan di bawah
target. - Studi kelayakan pasar per lokasi (traffic, demografi).


- Model rollout bertahap: 20‑30 gerai per kuartal, evaluasi KPI sebelum fase berikutnya. | | Ketersediaan bahan baku – volatilitas harga kopi internasional. | - Kontrak jangka panjang dengan pemasok lokal & internasional.
- Diversifikasi sumber (konsumsi Arabika vs Robusta). | | Persaingan harga – kompetitor seperti JCoffee, Starbucks, kedai lokal. | - Differensiasi kualitas (kopi single‑origin, roasting in‑house).
- Program loyalti dan digital engagement (app, QR ordering). | | Kebutuhan modal kerja – peningkatan persediaan dan piutang. | - Pengelolaan working capital yang ketat via inventory turnover dan receivable days. | | Tingkat bunga deposito – dana IPO di Bank Mandiri kini menghasilkan 6,25 % – lebih tinggi dari biaya modal internal. | - Evaluasi cost‑benefit: bila return proyek > 10 % (IRR), penarikan dana tetap menguntungkan meskipun bunga tinggi. |


4. Dampak Terhadap Pemegang Saham

  1. Investor Income‑Oriented

    • Kekhawatiran: Tidak ada dividend flow pada 2025‑2026.
    • Solusi: FORE dapat mengkomunikasikan rencana pembagian dividen jangka menengah (misalnya tahun 2027) setelah retained earnings menjadi positif dan capex selesai.
  2. Investor Growth‑Oriented

    • Positif: Potensi peningkatan EPS (Earnings per Share) dari laba bersih yang terus tumbuh dan peningkatan nilai perusahaan melalui aset gerai.
    • Strategi: Menggunakan total shareholder return (TSR) sebagai ukuran kinerja, mengkombinasikan capital gain dan potensi dividen masa depan.
  3. Institutional Investor

    • Analisis: Fokus pada fundamental strength – capital adequacy, likuiditas, dan prospek pertumbuhan. Keputusan tidak membayar dividen biasanya diterima bila ROIC (Return on Invested Capital) melebihi WACC (Weighted Average Cost of Capital).

5. Pandangan Pasar dan Outlook 2027‑2029

Tahun Proyeksi Utama Keterangan
2026 EBITDA meningkat ~30 % karena penambahan 50‑70 gerai
(fase awal). Capex tinggi, tapi cash flow operasional mulai positif.
2027 Retained earnings beralih positif; ROE di atas 15 %.
Pertimbangan pembayaran dividen minimal 30‑40 % laba bersih.
2028‑2029 Penambahan gerai mencapai target 100; **margin
kotor** kopi naik menjadi 35‑38 % (efisiensi bahan baku). Valuasi

P/E diperkirakan 12‑14×, lebih tinggi dibanding rata‑rata industri (≈10×). |

Catatan: Proyeksi mengasumsikan inflasi 4‑5 % per tahun, kurs rupiah relatif stabil, dan tidak ada kejutan regulasi signifikan pada sektor F&B.


6. Rekomendasi Strategis bagi FORE

  1. Komunikasi Transparan

    • Publikasikan roadmap dividend (misal: “target dividen 2027 setelah retained earnings positif”).
    • Gunakan AGM dan media relations untuk menjelaskan manfaat capex serta timeline ROI.
  2. Optimasi Modal Kerja

    • Implementasikan sistem inventory management berbasis AI untuk mengurangi waste pada stok bahan baku kopi dan donat.
    • Tingkatkan cash conversion cycle dengan menegosiasikan syarat pembayaran yang lebih baik kepada pemasok.
  3. Digitalisasi Penjualan

    • Kembangkan mobile app dengan fitur pre‑order, loyalty points, dan rekomendasi produk berbasis data analitik.
    • Integrasikan POS dengan CRM untuk mempersonalisasi penawaran dan meningkatkan frekuensi kunjungan.
  4. Ekspansi Berkelanjutan

    • Pilih lokasi strategis (mall, kampus, kawasan perkantoran) yang memiliki traffic tinggi namun biaya sewa masih wajar.
    • Pertimbangkan franchise model pada gerai di kota kecil, mengurangi beban CAPEX namun tetap memperluas brand footprint.
  5. Peningkatan Margin Donut

    • Eksplorasi produksi in‑house untuk bahan baku utama (tepung, butter), mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal.
    • Diversifikasi varian (vegan, low‑sugar) untuk menangkap segmen konsumen yang semakin peduli kesehatan.

7. Kesimpulan

Keputusan FORE untuk menunda pembagian dividen pada tahun 2025 bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi keuangan yang terukur. Dengan retained earnings yang masih negatif, perusahaan memilih menyalurkan seluruh likuiditas ke ekspansi agresif—100 gerai baru dan lini produk donut—sebagai langkah untuk mengubah struktur modal dan meningkatkan profitabilitas jangka panjang.

Jika eksekusi ekspansi berjalan sesuai rencana, nilai perusahaan diperkirakan akan tumbuh secara signifikan, membuka ruang bagi pembagian dividen kembali pada 2027 atau seterusnya, sekaligus memberikan total shareholder return yang menarik. Kunci keberhasilan terletak pada:

  • Pengelolaan risiko (lokasi, persediaan, biaya modal).
  • Komunikasi yang jelas kepada pemegang saham mengenai roadmap dividen.
  • Inovasi digital dan efisiensi operasional untuk meningkatkan margin.

Investor yang berorientasi pertumbuhan dapat menilai keputusan ini sebagai investasi dalam nilai fundamental, sementara pemegang saham yang mengandalkan dividend harus memantau progres retained earnings dan kesiapan perusahaan untuk kembali menyetorkan cash kepada pemegang saham di masa mendatang.

Secara keseluruhan, FORE berada pada titik kritis namun penuh peluang; apabila manajemen dapat mengeksekusi rencana ekspansi dengan disiplin, perusahaan berpotensi menjadi salah satu champion coffee‑and‑donut chain di Indonesia, sekaligus meningkatkan nilai pemegang saham secara signifikan dalam jangka menengah hingga panjang.