BMRI Tetap ‘Serok’: Rekomendasi Beli, Target Rp 5.700 – Analisis

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 5 May 2026

1. Ringkasan Riset Samuel Sekuritas (5 Mei 2026)

Item Forecast 2026 Catatan
NIM 4,5‑4,7 % (turun dari 4,6‑4,8 %) Dampak de‑konsolidasi BSI &
persaingan di pasar kredit
LDR 92‑93 % (turun dari 95 %) Kebijakan likuiditas yang lebih
konservatif
CIR ~40 % (naik dari 42‑43 %) Efisiensi biaya operasional
meningkat
Credit Cost 60‑80 bps (stagnan) Beban kredit tetap terkendali
Pertumbuhan Kredit 7‑9 % YoY Sejalan dengan target pertumbuhan
ekonomi Indonesia
Laba Bersih Q2‑2026 Rp 15,3 triliun (‑0,2 % QoQ, +36,4 % YoY)
Dipengaruhi penurunan NIM & provisioning yang lebih rendah
Dividen 2025 Rp 476,95 per saham (79 % payout) Yield ~8,5 % pada
2026
Buy‑back Nilai maksimum Rp 1,16 triliun Dapat mendukung harga
saham dalam jangka pendek

Target harga Rp 5.700 → potensi upside ≈ 26 % dari level penutupan 5 Mei 2026 (≈ Rp 4.530).


2. Kenapa Samuel Sekuritas Tetap “Serok” (Buy)

2.1 Valuasi yang Masih Terjangkau

  • PBV 2026 diproyeksikan 1,7×. Jika dibandingkan dengan peer‑group (BBCA ≈ 2,2×, BBNI ≈ 1,9×), BMRI masih menunjukkan diskon relatif terhadap aset bersihnya.
  • Yield dividen 8,5 % menempatkan BMRI di atas rata‑rata sektor perbankan (sekitar 5‑6 %). Bagi investor yang mengutamakan cash flow, ini menjadi daya tarik utama.

2.2 Fundamentalisme yang Kuat

Aspek Bukti Implikasi
Margin Bunga Bersih (NIM) Walau turun, masih berada di 4,5‑4,7 % –
level yang kompetitif dalam iklim suku bunga rendah. Sumber
profitabilitas utama tetap terjaga.
Cost‑to‑Income (CIR) Penurunan ke 40 % menggambarkan perbaikan
efisiensi operasional, terutama setelah sinergi digitalisasi dan rationalisasi biaya. Menambah kontribusi profit setelah fee dan NII. Provisioning Penurunan pencadangan 20 % YoY pada Q1‑2026. Mengurangi drag pada laba bersih, mencerminkan kualitas aset yang membaik.
Liquidity (LDR) LDR 92‑93 % (lebih konservatif). Memperkuat
posisi likuiditas di tengah risiko penurunan pendanaan eksternal.
Growth Kredit 7‑9 % YoY, konsisten dengan target ekonomi nasional
(pertumbuhan GDP ≈ 5‑5,5 %). Memperluas basis pendapatan bunga di sisi
kredit.

2.3 Kebijakan Korporasi yang Pro‑Shareholder

  1. Dividen Tinggi – Payout ratio 79 % menunjukkan kebijakan distribusi yang agresif, menambah daya tarik bagi investor institusional yang mencari income.
  2. Buy‑Back Saham – Otorisasi Rp 1,16 triliun dapat menurunkan jumlah saham beredar, meningkatkan EPS serta memberi dukungan teknikal pada harga.

2.4 Posisi Pasar dan Diversifikasi

  • Ukuran & Jaringan: BMRI tetap merupakan bank terbesar kedua di Indonesia (aset > Rp 1.200 triliun). Jaringan cabang + digital (Mandiri Online) memungkinkan penetrasi di segmen UMKM serta konsumer menengah.
  • Diversifikasi Pendapatan: Selain NII, pendapatan fee‑based (trade finance, cash management, wealth management) tumbuh stabil, menurunkan ketergantungan pada suku bunga.

3. Risiko yang Perlu Diwaspadai

Risiko Penjelasan Probabilitas (R) Dampak (I) Catatan Mitigasi
Penurunan NIM lebih tajam Jika kebijakan suku bunga BI turun lebih
agresif atau persaingan kredit mikro & fintech memaksa penurunan margin.
3/5 4/5 Fokus pada peningkatan fee‑based income & produk digital
ber‑margin tinggi.
Kenaikan Credit Cost Resesi global dapat menurunkan kemampuan
bayar nasabah korporat, menaikkan NPL. 2/5 4/5 Provisioning yang
konservatif, penekanan pada penilaian kredit yang ketat.
Regulasi Capital Adequacy Pengetatan regulasi Basel III (mis.
peningkatan CET1). 1/5 3/5 BMRI memiliki CET1 > 15 %, masih jauh di
atas minimum.
Keterbatasan Pertumbuhan Kredit Jika LDR tetap di bawah 90 %
akibat penurunan dana pihak ketiga (DPK). 2/5 3/5 Pengembangan
produk tabungan digital, partnership fintech untuk meningkatkan DPK.
Geopolitik & Valuta Fluktuasi nilai tukar mengurangi pendapatan
dari pinjaman dolar (mis. pinjaman ekspor‑impor). 1/5 2/5 Hedging
valuta dan diversifikasi portofolio aset.

Secara keseluruhan, rasio risiko‑reward masih condong ke sisi positif. Dampak risiko utama (NIM & credit cost) dapat dikelola melalui diversifikasi pendapatan dan kebijakan provisioning yang lebih ketat.


4. Outlook 2026‑2027: Skenario dan Target Harga

4.1 Skenario Dasar (Base Case)

  • Ekonomi Indonesia: Pertumbuhan GDP 5,2 % yoy, inflasi moderat (3‑4 %).
  • Suku Bunga: BI tetap pada 5,75 % (posisi netral).
  • NIM: Rata‑rata 4,6 % selama 2026‑27.
  • CIR: Terus turun ke 38‑39 % pada akhir 2027.
  • EPS: Rp 1 200 per saham pada 2027 (≈ 30 % YoY growth).

Dengan PBV 1,7× dan PER 12×, target harga Rp 5.700 pada akhir

4.2 Skenario Optimis

  • NIM stabil di 4,7‑4,8 %** (tidak turun).
  • Pertumbuhan Kredit mencapai 9‑10 % YoY.
  • Digitalisasi meningkatkan fee‑based income sebesar 6‑8 % YoY.

Implikasi: EPS 2027 naik menjadi Rp 1 400, PBV naik menjadi 2,0× → Target Harga Rp 6.800 (≈ 50 % upside).

4.3 Skenario Pesimis

  • NIM turun ke 4,2 % (pengetatan kompetisi).
  • Credit Cost naik menjadi 120 bps.
  • LDR turun di bawah 90 % karena penurunan DPK.

Implikasi: EPS 2027 menyusut menjadi Rp 950, PBV menurun menjadi 1,4× → Target Harga Rp 4.200 (≈ ‑7 % downside).


5. Rekomendasi Investasi

  1. Untuk Investor Jangka Panjang (≥ 3‑5 tahun)

    • Posisi Beli (Buy) pada level harga saat ini (Rp 4.500‑4.600).
    • Alasan: Yield dividend tinggi, potensi upside dari buy‑back, serta fundamental yang solid.
  2. Untuk Investor Income‑Oriented

    • Fokus pada ex‑dividend date (biasanya akhir Q3‑2026).
    • Pertimbangkan Strategi Dividend Reinvestment (DRIP) untuk mempercepat akumulasi saham.
  3. Untuk Trader/Short‑Term

    • Pertimbangkan entry pada support teknikal di sekitar Rp 4.300–4.400, dengan target Rp 5.200‑5.500 sejalan dengan rilis laporan Q2‑2026 (perkiraan EPS yang masih positif).

6. Langkah Selanjutnya yang Diharapkan dari Manajemen

Langkah Tindakan Konkret Timeline
Penguatan Digital Banking Peluncuran platform pinjaman digital
terintegrasi (Mandiri Digital Credit). H2‑2026
Optimasi Cost Structure Penutupan cabang tidak produktif,
outsourcing fungsi non‑core. Q3‑2026
Ekspansi Produk Wealth Management Penawaran produk reksa dana,
asuransi unit-linked via Mandiri Sekuritas. 2026‑2027
Pengelolaan Likuiditas Peningkatan DPK melalui program “Mandiri
Savings” dengan reward fintech partner. Berkelanjutan

Implementasi langkah‑langkah di atas akan menambah margin of safety bagi investor dan meningkatkan peluang outperformance relatif indeks LQ45.


7. Kesimpulan

  • Fundamental: BMRI tetap bank dengan aset terbesar, profitabilitas yang masih kuat, dan efisiensi biaya yang meningkat.
  • Valuasi: PBV 1,7× dan yield dividend 8,5 % memberikan margin of safety yang cukup bagi penilai nilai intrinsik konservatif.
  • Catalyst: Dividen tinggi, otorisasi buy‑back Rp 1,16 triliun, dan prospek pertumbuhan kredit 7‑9 % YoY.
  • Risiko utama: Penurunan NIM dan potensi kenaikan credit cost, namun dapat di‑mitigasi lewat diversifikasi pendapatan dan provisioning yang prudensial.

Dengan kombinasi fundamental kuat, valuasi terjangkau, serta dukungan kebijakan korporasi (dividen & buy‑back), rekomendasi “Serok” (Buy) tetap relevan. Investor yang dapat menahan fluktuasi jangka pendek dan mengoptimalkan keuntungan dividend serta buy‑back berpeluang memperoleh total return di atas 30 % dalam 12‑18 bulan ke depan.

Catatan Penutup:
Analisis ini didasarkan pada informasi publik hingga 5 Mei 2026 serta asumsi makro‑ekonomi yang konsisten dengan prospek OJK & Bank Indonesia. Investor disarankan melakukan due‑diligence lanjutan, terutama pada laporan keuangan Q2‑2026 dan pernyataan resmi manajemen terkait kebijakan suku bunga serta strategi digital.


Prepared by: Analisis AI – Ekonomi & Pasar Modal, 5 Mei 2026