Bitcoin Turun di Bawah US $90 000: Likuiditas Tipis, Volume Rendah, dan Tekanan Bearish Menjelang Akhir Tahun 2025

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 26 December 2025

Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam

1. Ringkasan Situasi Pasar (26 Des 2025)

Aset Perubahan Harga Harga Terakhir*
Bitcoin (BTC) ‑0,54 % US $87.021
Ethereum (ETH) ‑1,36 % US $2.898
Binance Coin (BNB) ‑1,95 % US $829
Solana (SOL) ‑1,99 % US $119
Ripple (XRP) ‑1,69 % US $1,82
Dogecoin (DOGE) ‑3,74 % US $0,12

*Harga diambil pada pukul 13.30 WIB, data CoinMarketCap.

  • Kapitalisasi pasar global turun 0,91 % menjadi US $2,93 triliun.
  • Likuiditas menurun tajam karena libur akhir tahun di pasar Asia, yang biasanya menyumbang ~30 % volume harian kripto.
  • Volume 24 jam berada di level terendah sejak Q4 2023, menandakan thin order book dan spread yang lebih lebar.

2. Mengapa Likuiditas Menipis?

Faktor Penjelasan
Libur Akhir Tahun (Asia) Bursa tradisional, perusahaan, dan institusi keuangan di Asia (Japan, Korea, Singapura, Hong Kong) sebagian besar tutup atau beroperasi dengan tim kecil, mengurangi arus masuk/keluar dana.
Data Makroekonomi yang Menumpuk Kalender rilis data (inflasi, CPI, PMI) di AS dan UE pada minggu ini mempersempit fokus trader ke fundamental daripada technical. Banyak pelaku institusional menunggu konfirmasi sebelum menempatkan order besar.
Kelelahan Pasca‑Bull Run 2024‑2025 Setelah rally panjang hingga US $110k di Q2 2024, profit‑taking secara bertahap mengikis permintaan beli.
Sentimen Negatif pada Stablecoin dan DeFi Beberapa insiden keamanan pada platform DeFi (contoh: hack pada protokol lending) meningkatkan risk‑off di kalangan pengguna retail.
Regulasi Diskusi regulasi kripto di EU (MiCA) dan Amerika (potential “crypto‑tax” bill) menunda keputusan pasar, sehingga trader menahan posisi sampai kepastian.

3. Analisis Teknis: Apakah “Bearish Wedge” Benar‑Benar Terbentuk?

  1. Trendline Dasar – Garis tren menurunkan (downtrend) sejak pertengahan Oktober 2025 tetap utuh: 91 k → 88 k → 87,5 k.
  2. Upper Boundary (Resistance) – Menghubungkan puncak pada 91 k (20 Des) dan 88,5 k (10 Des) menghasilkan slope negatif (~‑0,0015).
  3. Lower Boundary (Support) – Menghubungkan low pada 85,2 k (5 Des) dan 86,0 k (21 Des). Kedua garis menyempit, membentuk segitiga (wedge) yang mengarah ke potensi breakout.
  4. Volume Profile – Volume menurun kuat saat price mendekati lower boundary, menandakan lack of buying pressure.
  5. Indikator
    • RSI (14) berada di 45 (netral), mengindikasikan belum over‑sold.
    • MACD masih negatif, dengan histogram menurun, menguatkan momentum bearish.
    • Bollinger Bands menyempit, menandakan consolidation dan low volatility.

Interpretasi: Jika harga menembus lower boundary (sekitar US $86 500) dengan volume yang meningkat, probabilitas down‑trend berlanjut tinggi. Sebaliknya, penembusan upper boundary (sekitar US $88 500) – meski sulit karena tekanan jual – dapat memberi sinyal reversal ke arah bullish, terutama bila didukung oleh masuknya order beli dari institusi yang menunggu momen “liquidity splash”.


4. Faktor Makro‑Ekonomi yang Berpotensi Memperkuat Tekanan

Makro Ekonomi Dampak Potensial pada BTC
Data Inflasi US (CPI) – “Sticky” inflation di atas ekspektasi dapat memicu Fed untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga, sehingga risk‑off dan menurunkan daya tarik aset non‑korporat.
Kebijakan Moneter Global – Kebijakan quantitative tightening di Eropa meningkatkan yield obligasi, menggerakkan modal kembali ke instrumen tradisional.
Kurs Dollar (USD) – Penguatan USD (mis. DXY naik di atas 107) biasanya menurunkan harga BTC karena korelasi invers.
Sentimen Geopolitik – Ketegangan di Asia‑Pasifik atau konflik energi dapat menambah volatilitas, namun saat pasar “cautious”, likuiditas tetap tipis.
Kenaikan Yield Obligasi US 10‑yr – Jika yield melewati 4,5 %, alokasi ke aset berbunga menjadi lebih menarik dibanding kripto yang tidak menghasilkan imbal hasil.

5. Implikasi Bagi Berbagai Kategori Pelaku Pasar

Pelaku Potensi Tindakan
Investor Institusional (Fund, Hedge Fund) Menunggu liquidity event (mis. masuknya dana baru pada Q1 2026) sebelum menambah eksposur. Bila ada sinyal breakout ke bawah, mereka dapat memperbesar short posisi atau menyiapkan stop‑loss pada level US $86 500.
Trader Retail Karena spread lebar, scalping menjadi kurang efisien. Lebih bijak menunggu konfirmasi volume pada breakout. Jika masih bullish, pertimbangkan buy‑the‑dip pada support kuat US $85 000 dengan risk‑reward >1:2.
Pengguna DeFi/Lending Menurunnya harga BTC dapat memicu liquidations pada platform yang mengandalkan BTC sebagai kolateral; sebaiknya periksa rasio kolateral dan pertimbangkan diversifikasi ke stablecoin.
Penambang (Miner) Harga BTC di bawah US $90 k menekan margin mining (hashrate → profit). Beberapa miner dapat menutup operasi atau beralih ke staking (jika mereka memiliki altcoin) atau menunggu halving (2028) untuk mendukung harga.
Regulator Likuiditas tipis memberi peluang untuk memperketat AML/KYC pada bursa, karena order book yang sempit mudah dimanipulasi.

6. Skenario Kemungkinan Harga BTC hingga Akhir 2025

Skenario Deskripsi Target Harga
Base Case (Consolidation) Likuiditas tetap tipis hingga libur tahun baru, volume naik kembali pada Januari 2026. Harga bergerak dalam kisaran US $85 k‑$89 k. US $87 k ± 2 k
Bearish Breakout Break di bawah US $86 500 dengan volume tinggi → bearish wedge berlanjut, menurunkan ke support sebelumnya di US $81 k (level psikologis $80k). US $81 k – $78 k
Bullish Reversal Penembusan kuat di atas US $88 500 + aliran beli institusional (mis. inflow dari hedge fund) → kembali ke zona $90 k dan menguji $95 k sebelum akhir 2025. US $92 k – $95 k
Event‑Driven Spike Rilis data makro yang mengejutkan (mis. inflasi turun drastis, Fed memotong suku bunga) → sentimen risiko naik, BTC melonjak > $100 k dalam satu minggu. US $100 k – $110 k

7. Rekomendasi Praktis (Bukan Nasihat Investasi)

  1. Pantau Volume dan Order Book – Karena likuiditas tipis, pergerakan harga dapat dipicu oleh order relatif kecil. Gunakan depth chart pada bursa utama (Binance, Coinbase Pro) untuk mengidentifikasi level support/resistance yang “real”.
  2. Gunakan Stop‑Loss yang Lebih Ketat – Pada kondisi spread lebar, letakkan stop‑loss sedikit di atas/below level teknis untuk menghindari slippage yang berlebihan.
  3. Diversifikasi ke Stablecoin atau Altcoin yang Lebih Tahan Volatilitas – Misalnya USDC, BUSD, atau komoditas tokenized (Gold, Oil) untuk melindungi nilai selama periode sideways.
  4. Strategi “Dollar‑Cost Averaging (DCA)” – Jika Anda masih optimis pada jangka panjang (> 2 tahun), alokasikan jumlah tetap tiap minggu/bulan untuk mengurangi dampak volatilitas jangka pendek.
  5. Perhatikan Kalender Kalendar Ekonomi – Rilis CPI, PCE, FOMC, dan data penjualan ritel AS pada minggu ke‑2 Januari 2026 dapat menjadi katalis volatilitas kembali.

8. Kesimpulan

  • Likuiditas tipis dan volume perdagangan rendah merupakan faktor utama yang menahan pergerakan harga Bitcoin pada akhir tahun 2025.
  • Dari sudut pandang teknikal, grafik menunjukkan bearish wedge yang dapat menekan harga ke bawah jika terjadi breakout pada level ~US $86 500 dengan volume meningkat.
  • Fundamental tetap dipengaruhi oleh data makroekonomi AS/EU, kebijakan suku bunga, dan sentimen regulasi, yang saat ini lebih mendukung risk‑off.
  • Kondisi pasar akan tetap “stagnan” sampai libur tahun baru berakhir dan volume perdagangan kembali mengalir. Investor institusional kemungkinan akan menunggu momentum yang lebih jelas sebelum menambah eksposur.
  • Trader ritel sebaiknya menahan aksi agresif, fokus pada manajemen risiko, dan menunggu konfirmasi breakout—baik ke atas maupun ke bawah—sebelum membuat posisi signifikan.

Peringatan: Analisis di atas bersifat informatif dan tidak ditujukan sebagai rekomendasi atau saran investasi. Selalu lakukan riset independen serta pertimbangkan toleransi risiko pribadi sebelum membuat keputusan keuangan.


Semoga ulasan ini membantu Anda memahami dinamika pasar kripto pada periode yang kritis ini.