Harga CPO Jatuh, Pasar Tunggu Data MPOB 

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 6 February 2026

Tanggapan Panjang: Analisis Dinamika Harga CPO pada 5 Februari 2026 serta Implikasinya ke Depan

1. Ringkasan Pergerakan Harga

Pada hari Kamis, 5 Feb 2026, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan hampir seragam pada semua tenor:

Bulan Kontrak Harga Penutupan (RM/ton) Penurunan (RM)
Feb 2026 4.121 -20
Mar 2026 4.177 -20
Apr 2026 4.206 -19
Mei 2026 4.214 -11
Jun 2026 4.204 -10
Jul 2026 4.196 -3

Penurunan ini memutuskan kenaikan tipis yang terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya. Penurunan bagaimanapun masih berada di zona 4,0‑4,3 RM/ton, yang secara historis masih tergolong “high‑price” dibandingkan rata‑rata lima‑tahun terakhir (sekitar 3,8 RM/ton).

2. Penyebab Primer Penurunan

Faktor Penjelasan Dampak pada Harga
Leverage Harga di Bursa Dalian Harga CPO di Dalian, pasar futures utama China, turun tajam karena penurunan permintaan domestik dan tingkat persediaan yang tinggi. Menyebabkan penurunan paralel di BMD karena arbitrase lintas‑bursa.
Harga Minyak Nabati di Chicago (Soybean, Rapeseed) Penurunan harga minyak nabati rival (soybean oil ≈ $0,45/liter, rapeseed oil ≈ $0,48/liter) menurunkan premium relatif CPO. Mengurangi daya tarik CPO bagi pembeli yang mengalihkan permintaan.
Sentimen Menunggu Data MPOB Pelaku pasar menahan posisi menunggu data bulanan MPOB (10 Feb) yang akan mengungkap produksi, persediaan, dan ekspor. Mengakibatkan “cautious trading” dan penurunan likuiditas yang menurunkan harga.
Penguatan Ringgit (RM) Nilai tukar RM menguat terhadap USD (USD/RM ≈ 4,15 pada 5 Feb vs 4,30 sebelumnya). Mengurangi harga CPO dalam RM meskipun harga internasional (USD) tidak berubah signifikan.
Kenaikan Ekspor Indonesia & Permintaan India Secara fundamental, permintaan kuat (India +51% imp‑import; Indonesia +102% ekspor Jan) memberi tekanan naik pada harga. Namun, efek ini belum “terserap” karena data belum resmi dan pasar masih menunggu klarifikasi. Dampak positif masih “tertunda” dalam harga BMD.

3. Analisis Lanjutan: Kekuatan Permintaan vs Kelemahan Penawaran

Dimensi Tren Aktual Proyeksi Jangka Pendek (1‑3 bulan) Proyeksi Jangka Menengah (6‑12 bulan)
Permintaan India Impor naik 51% Jan, diskon CPO vs kedelai < 5 c/liter. Kenaikan moderat jika harga global tetap stabil; India dapat menjadi “price‑setter” untuk Asia. Kalau harga global menurun, India dapat kembali mengurangi margin, menurunkan permintaan.
Ekspor Indonesia +102% Jan, total ekspor 2025 +9,1% YoY. Dukungan harga selama musim panen (Feb‑Apr) karena Indonesia menjadi “supply‑shock”. Jika Indonesia menurunkan kebijakan ekspor (pembatasan kuota), pasar dapat kembali menguat.
Produksi Malaysia (MPOB) Sementara produksi musiman menurun, data MPOB diperkirakan memperlihatkan persediaan akhir bulan tidak naik (break of 10‑bulan trend). Stabilisasi atau bahkan penurunan persediaan akan menambah tekanan naik pada harga. Jika produksi kembali menurun lebih jauh (musim hujan), harga bisa menembus ambang 4,4 RM/ton.
Kurs Ringgit Penguatan RM menahan penurunan nominal. Penguatan cenderung berlanjut jika suku bunga Malaysia tetap tinggi dibandingkan AS. Depresiasi RM (mis. karena kebijakan moneter longgar) dapat meningkatkan harga dalam RM saja.
Harga Minyak Nabati Global Penurunan di Chicago mempengaruhi premium CPO. Jika harga kedelai/ripeseed kembali naik (mis. karena gangguan pasokan di Amerika Selatan), CPO akan kembali mendapatkan premium. Tren global pada komoditas nabati (cuaca, kebijakan tarif) tetap menjadi “driver” utama.

4. Apa yang Diharapkan dari Rilis Data MPOB (10 Feb 2026)?

  1. Produksi Bulanan – Jika angka produksi lebih rendah dari perkiraan (mis. karena curah hujan rendah di Perak/Selangor), pasar akan menilai tightness dan harga dapat kembali melambung.
  2. Persediaan Akhir Bulan – Data yang menunjukkan penurunan atau stabil akan mengakhiri tren kenaikan persediaan 10‑bulan, memberi sinyal undersupply.
  3. Ekspor dan Impor – Detail tentang volume ekspor ke India, China, dan UE akan memberi konteks permintaan riil. Jika ekspor “over‑perform”, dorongan harga akan kuat.
  4. Penggunaan Domestik – Penurunan konsumsi industri (mis. biodiesel, oleokimia) akibat harga energi yang lebih rendah dapat menurunkan tekanan pada pasar domestik.

Skor Sentimen:

  • Jika Produksi < 1,7 Jt ton & Persediaan turun → Sentimen bullish (potensi +0,10‑0,15 RM/ton dalam seminggu).
  • Jika Produksi > 1,9 Jt ton & Persediaan naik → Sentimen bearish (potensi -0,08‑0,12 RM/ton).

5. Implikasi bagi Berbagai Pelaku Pasar

Pelaku Rekomendasi Tindakan
Trader Jangka Pendek / Day Trader - Manfaatkan volatilitas sebelum 10 Feb dengan straddle (buy call & put) pada kontrak Feb‑Mar.
- Pantau indeks Dalian dan CBOT untuk sinyal arah cross‑commodity.
Investor Institusional - Pertimbangkan peningkatan posisi long pada kontrak Jun‑Jul (lebih likuid) setelah data MPOB mengonfirmasi tight supply.
- Gunakan forward contracts untuk hedging risiko kurs RM.
Produsen/Exportir Malaysia - Jika data MPOB mengindikasikan persediaan turun, optimalkan penjualan spot di pasar domestik dengan harga premium.
- Evaluasi peluang price‑linked contracts dengan pembeli India untuk mengunci margin.
Pengolah Minyak (India, China) - Secara strategis stockpile bila harga CPO turun di atas 4,15 RM/ton, mengantisipasi kenaikan harga pada kuartal berikutnya.
Pembuat Kebijakan (Kementerian Pertanian, Bank Negara) - Perhatikan fluktuasi kurs RM dan dampaknya pada harga komoditas pangan.
- Siapkan insentif bagi produsen kecil bila harga turun di bawah 4,0 RM/ton guna menjaga kesejahteraan petani.

6. Skenario Harga CPO ke Depan (April‑Juli 2026)

Skenario Asumsi Utama Harga Target (RM/ton) Probabilitas
Bullish – “Tight Supply” Produksi 10% di bawah perkiraan, persediaan turun, Ringgit tetap kuat. 4,35 – 4,45 30 %
Neutral – “Data‑Driven Stabilization” Produksi sesuai perkiraan, persediaan netral, Ringgit sedikit menguat. 4,20 – 4,30 45 %
Bearish – “Nabati Rally” Harga minyak nabati global naik, Ringgit melemah, produksi Malaysia naik. 4,05 – 4,15 25 %

7. Kesimpulan

  • Penurunan harga CPO pada 5 Feb 2026 lebih dipicu oleh faktor teknikal (leverage Dalian, harga nabati) dan psikologis (menunggu data MPOB) daripada perubahan fundamental pada permintaan.
  • Fundamentals tetap kuat: ekspor Indonesia yang meledak, permintaan India yang melonjak, serta prospek penurunan persediaan Malaysia menyiapkan buffer bagi harga untuk kembali naik setelah data MPOB.
  • Kurs Ringgit berperan signifikan dalam menahan penurunan nominal; sebaliknya, penguatan RM dapat menurunkan harga dalam RM meskipun price in USD stabil.
  • Data MPOB pada 10 Feb menjadi katalis utama. Trader dan investor sebaiknya menyiapkan strategi fleksibel: posisi netral sambil menyiapkan entry‑point pada bullish atau bearish tergantung hasil data.
  • Pandangan jangka menengah: Jika data menunjukkan tight supply, harga CPO dapat kembali menembus 4,40 RM/ton sebelum musim panen berikutnya; namun, risiko eksternal (harga minyak nabati global, kebijakan ekspor Indonesia) tetap dapat menekan ke sisi bawah.

Rekomendasi singkat:

  • Pantau indeks Dalian, CBOT, dan nilai tukar RM setiap 4‑6 jam.
  • Set stop‑loss pada 4,10 RM/ton untuk posisi long, dan take‑profit pada 4,35 RM/ton bila data MPOB mengkonfirmasi tight supply.
  • Diversifikasi exposure ke kontrak futures lain (soybean oil, rapeseed oil) untuk mengurangi risiko cross‑commodity.

Dengan memadukan analisis teknikal (chart & volume) dan fundamental (data MPOB, ekspor‑import, kurs), pelaku pasar dapat mengelola volatilitas pada periode transisi ini secara lebih terinformasi dan terukur.

Tags Terkait