INET (PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk) Siap Melonjak! Suspensi Dilepas, Target Harga Rp 1.350, dan Prospek Pertumbuhan Eksplosif Hingga 2027

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 10 December 2025

Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam

1. Latar Belakang Suspensi dan Pembukaan Kembali

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut suspensi perdagangan saham INET (baik di pasar reguler, pasar tunai, maupun waran Seri I) efektif pada sesi I, Rabu 10 Desember 2025.

  • Implikasi teknis: Saham kembali dapat diperdagangkan, likuiditas akan meningkat, dan investor dapat menyesuaikan posisi mereka.
  • Sinyal pasar: Penghapusan suspensi biasanya menandakan bahwa regulator telah menilai tidak ada lagi risiko material yang belum terungkap. Hal ini memberi “green light” bagi aliran dana institusional dan retail untuk kembali masuk.

2. Riset Samuel Sekuritas: Rekomendasi Spec‑Buy & Target Harga Rp 1.350

Samuel Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi spec‑buy dengan target harga Rp 1.350, naik drastis dari harga penutupan terakhir sekitar Rp 775 (kenaikan potensial ~74 %).

Parameter Nilai Keterangan
Target Harga Rp 1.350 EV/EBITDA 2027F 25×
Opsi Beli Spec‑Buy Mengingat volatilitas tinggi, cocok untuk investor agresif dengan horizon 12‑24 bulan.
Perkiraan Laba Bersih (2026‑2027) Rp 257 M (2026) – Rp 736 M (2027) CAGR laba bersih > 800 % YoY 2025‑2027
EBITDA Margin (2026) 60‑70 % Menunjukkan profitabilitas operasional yang sangat kuat.
Valuasi EV/EBITDA 25× (2027F) Masih berbanding tinggi, namun dapat dibenarkan oleh pertumbuhan eksponensial.

2.1. Metodologi Penetapan Target

  • EV/EBITDA 25× dipilih berdasarkan benchmark regional ISP yang tengah berada pada fase ekspansi infrastruktur (misalnya, Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison). PIC (price‑to‑income‑capped) yang tinggi tumbuh seiring ekspektasi margin EBITDA mendekati 70 % di tahun 2027.
  • Discounted Cash Flow (DCF) implisit menghasilkan nilai terminal yang mencerminkan pertumbuhan pendapatan tahunan > 150 % hingga 2027, sejalan dengan proyeksi revenue Rp 942 M pada 2026 (284 % YoY).

3. Kinerja Keuangan 9M25: Fondasi Pertumbuhan

Item 9M25 YoY Catatan
Pendapatan Rp 68,6 M +190,5 % Didominasi oleh layanan ISP (Rp 67 M, +188,4 %).
Laba Bersih Rp 19,4 M +818,9 % Setara 86 % estimasi Samuel Sekuritas, menandakan margin bersih yang meningkat drastis.
Pelanggan Mitra 1,5 juta (Sep 2025) + ≈ 580 % vs Des 2024 (220 rb) Pendorong utama revenue ISP.
  • Peningkatan pendapatan yang hampir tiga kali lipat menegaskan skala jaringan ISP yang berhasil di‑scale‑up selama 2025.
  • Laba bersih melambung > 800 % menandakan efisiensi operasional, pengendalian OPEX, dan margin kontribusi tinggi pada layanan broadband.

4. Rencana Pendanaan dan Ekspansi Besar

4.1. Kebutuhan Modal Rp 4,2 triliun

Sumber Jumlah Status
Rights Issue 2025 Rp 3,2 triliun Menunggu persetujuan OJK
Obligasi 2026 Rp 1 triliun Rencana penerbitan pada 2026
Total Rp 4,2 triliun Diprogram untuk investasi CAPEX 2025‑2027

4.2. Alokasi Modal Utama

Penggunaan Keterangan
Kabel Bawah Laut Membuka jalur back‑haul internasional, mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.
FTTH (Fiber To The Home) Target penetrasi > 30 % rumah tangga di wilayah target, memperkuat paket bundled.
Node‑Based Internet Services Memperluas jaringan edge computing untuk latency‑sensitive aplikasi (gaming, IoT).
Akuisisi PADA & THC Memperluas kapasitas kontraktor FTTH & layanan managed services, sinergi operasional.

Catatan: Pendanaanrights‑issue biasanya meningkatkan dilusi saham, namun dalam konteks pertumbuhan eksponensial, nilai per saham diharapkan meningkat lebih tinggi daripada efek dilusi.

5. Proyeksi Keuangan 2026‑2027

Tahun Revenue (Rp M) YoY EBITDA Margin Laba Bersih (Rp M) YoY Laba
2026 942 +284 % 60‑70 % 257 +849 %
2027 1 530 (est.) +62 % ~70 % 736 +185 %
  • Revenue 2026 diperkirakan melonjak ke Rp 942 M, menandakan skala pasar ISP Indonesia masih jauh di bawah penetrasi maksimum.
  • EBITDA margin 60‑70 % menandakan bahwa INET berhasil mengoptimalkan biaya jaringan (CAPEX amortisasi, OPEX per‑unit rendah) sambil memperluas top‑line.

6. Analisis Risiko

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Keterlambatan Ekspansi (cable, FTTR) Penurunan pertumbuhan revenue, tekanan cash‑flow Pengawasan ketat terhadap jadwal proyek, penambahan partner EPC.
Realitas Pertumbuhan Pelanggan di Bawah Ekspektasi Margin menurun, target harga tidak tercapai Diversifikasi layanan (cloud, data center) untuk meningkatkan ARPU.
Pelemahan Daya Beli Konsumen (inflasi, suku bunga) Penurunan churn, beralih ke paket lower‑tier Penawaran bundling, paket harga fleksibel, promosi paket keluarga.
Regulasi OJK / Kemenkominfo Penundaan rights issue atau obligasi Dialog proaktif dengan regulator, kepatuhan penuh terhadap persyaratan.

7. Perspektif Pasar & Valuasi

  1. Tren Makro: Permintaan akan broadband berkecepatan tinggi di Indonesia diproyeksikan mencapai > 200 M pelanggan pada 2030, didorong oleh digitalisasi ekonomi, kerja remote, dan layanan streaming. INET berada di posisi yang tepat untuk memanfaatkan “pent-up demand”.
  2. Komparatif Peer: Dibandingkan dengan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) atau Telkom Indonesia, INET memiliki EV/EBITDA yang lebih tinggi (25× vs 12‑15×), tetapi juga CAGR laba bersih yang jauh lebih agresif (> 800 % YoY vs < 30 % untuk pemain lama). Investor yang bersedia menanggung volatilitas dapat memanfaatkan “gap” valuasi ini.
  3. Kebutuhan Modal dan Dilusi: Rights issue sebesar Rp 3,2 triliun dapat menyebabkan dilusi hingga ≈ 30 % bila tidak diikuti pembelian oleh existing shareholders. Namun, proyeksi EPS (Earnings per Share) di 2027 diperkirakan > Rp 200 (dengan asumsi total saham beredar ~ 360 juta), jauh melampaui nilai target harga.

8. Rekomendasi Investasi

Tipe Investor Horizon Alokasi Alasan
Investor Spekulatif / High‑Risk 12‑24 bulan 20‑30 % portofolio Memanfaatkan volatilitas pasca‑suspensi + potensi upside cepat ke target Rp 1.350.
Investor Fundamental / Long‑Term 3‑5 tahun 40‑50 % portofolio Proyeksi pertumbuhan revenue & laba yang eksponensial, serta posisi strategis di pasar ISP yang masih dalam fase pembangunan infrastruktur.
Institutional / Fund 2‑5 tahun 30‑40 % Ekspansi CAPEX besar, rights issue memberi kesempatan untuk menambah kepemilikan pada harga diskon.

Catatan penting: Investor perlu memantau proses persetujuan rights issue dan pencairan obligasi 2026. Kedua peristiwa ini akan menentukan kemampuan INET mengeksekusi rencana ekspansi dan pada gilirannya menstabilkan valuasi.

9. Kesimpulan

  • Penghapusan suspensi memberikan sinyal regulator bahwa tidak ada isu material yang belum diungkap, sehingga pasar dapat kembali menilai saham INET secara normal.
  • Fundamental kuat: Pendapatan +190 %, laba bersih +819 % YoY pada 9M25, didorong oleh ledakan basis pelanggan ISP (1,5 juta mitra).
  • Rencana pendanaan Rp 4,2 triliun bersifat transformative: kabel bawah laut, FTTH, serta akuisisi strategis yang akan memperluas ekosistem layanan.
  • Target harga Rp 1.350 tampak realistis bila eksekusi ekspansi berjalan lancar dan margin EBITDA tetap di kisaran 60‑70 % pada 2026‑2027.
  • Risiko tetap ada (kelambatan proyek, daya beli konsumen, regulasi), namun dapat dikelola melalui diversifikasi layanan dan kemitraan teknis.

Dengan demikian, saham INET berada pada fase “growth catalyst” yang jarang ditemui di pasar saham Indonesia. Bagi investor yang memiliki toleransi risiko tinggi dan horizon investasi menengah‑panjang, INET menawarkan peluang upside yang signifikan, terutama jika perusahaan berhasil menyelesaikan rights issue, menyalurkan dana CAPEX, dan mewujudkan target pertumbuhan pelanggan yang ambisius.

Selalu lakukan due‑diligence pribadi, perhatikan likuiditas pasar setelah pembukaan kembali, dan pertimbangkan alokasi aset secara proporsional dengan profil risiko masing‑masing.