IHSG 2025 Mencapai Kenaikan 22,13 % – Momentum Positif, Namun 2026 Bisa Melambat

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 30 December 2025

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Kinerja IHSG 2025

  • Kenaikan tahunan: 22,13 % (dari 7.080,2 pada akhir 2024 menjadi 8.646,9 pada 30 Des 2025).
  • Rata‑rata nilai transaksi harian (RNTH): Rp 18,06 triliun.
  • Volume perdagangan harian: 30,27 miliar lembar saham.
  • Frekuensi transaksi: 1,78 juta kali per hari.
  • Rekor: 24 kali pencapaian all‑time high (ATH) dan kapitalisasi pasar tertinggi Rp 16 ribu triliun.

Kinerja ini menandai pemulihan yang signifikan setelah masa penurunan pada 2023‑2024, sekaligus menegaskan bahwa pasar modal Indonesia mampu bertahan meski berada dalam tekanan eksternal (kebijakan moneter AS yang hawkish, fluktuasi komoditas) dan domestik (inflasi menengah‑atas, ketidakpastian kebijakan fiskal).


2. Faktor‑Faktor Penggerak Kenaikan 2025

Faktor Dampak Penjelasan
Valuasi yang masih relatif murah + PE rata‑rata indeks tetap di kisaran 12‑13×, jauh di bawah rata‑rata regional (ASEAN ~14‑15×). Hal ini memberikan ruang upside sebelum overvaluasi.
Dividen Yield tinggi + Yield rata‑rata mendekati 5 %, menarik bagi aliran dana yang mencari income di pasar emerging.
Kekuatan sektor keuangan & konsumer + LSE (Laba Staf Ekuitas) BUMN, bank besar, dan consumer staples menunjukkan perbaikan EPS +14 % QoQ pada Q3‑2025, menstimulasi sentimen bullish.
Stabilisasi kebijakan moneter domestik + BI menurunkan suku bunga acuan ke 5,75 % pada Q2‑2025, memperkecil biaya pendanaan bagi korporasi dan meningkatkan likuiditas pasar.
Relaunch program investasi asing + Pemerintah memperkenalkan “Green Sukuk” dan insentif pajak bagi foreign investors, meningkatkan aliran modal asing.
Pemulihan global yang lambat namun stabil ± Meskipun pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan 2,2 % (IMF 2025), stabilitas geopolitik di Asia‑Pasifik dan penurunan volatilitas USD/JPY membantu memperbaiki sentimen pasar emerging.

3. Proyeksi IHSG 2026 – Analisis Riset BRI Danareksa

Skenario Level IHSG (akhir 2026) Pertumbuhan YoY Asumsi Utama
Bull Case 9.820 +13,5 % EPS 2026 + 10 %, PE 14,2×
Base Case 9.440 +9,1 % EPS 2026 + 8 %, PE 14,2×
Bear Case 9.135 +2,8 % EPS 2026 + 6 %, PE 12,5×

Catatan penting:

  • Proyeksi mengasumsikan EPS 2026 sebesar 8 % YoY (rata‑rata lima tahun).
  • PE 14,2× dipilih sebagai “fair value” historis IHSG, mengingat rata‑rata PE lima tahun terakhir sekitar 13‑15×.
  • Yield dividen dipertahankan di kisaran 4,8‑5,2 %, menambah daya tarik total return.

4. Mengapa 2026 Mungkin Melambat?

Risiko Dampak Potensial Keterangan
Kebijakan moneter AS - Jika Fed kembali menaikkan suku bunga atau memperpanjang high‑rate policy, arus modal keluar dari emerging markets dapat menguat, menekan IDR dan memperkecil likuiditas pasar Indonesia.
Inflasi domestik menempel - Inflasi makanan & energi > 5 % berkelanjutan dapat memaksa BI menahan penurunan suku bunga, meningkatkan cost‑of‑capital korporat.
Kelemahan EPS Q4‑2025 - Laporan laba Q4‑2025 diperkirakan masih negatif YoY (‑1 %‑‑2 %). Jika penurunan tidak terbalik, kepercayaan investor dapat tertekan.
Ketegangan geopolitik - Konflik di Laut China Selatan atau ketegangan di Timur Tengah dapat memicu volatilitas pasar global, memengaruhi eksposur komoditas Indonesia.
Sektor energi & komoditas - Penurunan harga batu bara, nikel, dan kelapa sawit dapat menurunkan pendapatan sektoral utama dan mempengaruhi kapitalisasi pasar.
Regulasi pasar modal - Kebijakan baru tentang “green listing” atau pembatasan short‑selling dapat menambah ketidakpastian operasional bagi institusi.

Jika satu atau lebih faktor di atas terwujud, indeks dapat terhenti pada level 9.100‑9.200, mencerminkan pertumbuhan ≤ 3 % dibandingkan 2025.


5. Implikasi Investor – Rekomendasi Aset

Kelas Aset Rekomendasi Alasan
Saham Blue‑Chip (Bank, BUMN, Consumer Staples) Buy‐to‑Hold EPS + 8‑10 % YoY, dividend yield ≈ 5 %, PE ≈ 13‑14×, likuiditas tinggi.
Saham Pertumbuhan (Tech, Infrastruktur, Renewable Energy) Selective Long Valuasi masih dapat dipertahankan di PE 15‑17× dengan outlook pertumbuhan EPS > 12 % (misalnya e‑commerce, data center).
ETF & Index Fund (IHSG ETF, IDX30) Core Holding Diversifikasi otomatis, biaya rendah, cocok untuk eksposur pasar keseluruhan.
Obligasi Pemerintah & Korporasi Diversify 20‑30 % Yield obligasi pemerintah 10‑yr ≈ 6‑7 %, memberikan safety net bila pasar saham melambat.
Reksa Dana Pendapatan (Dividen Focus) Overlay Fokus pada perusahaan dengan payout ratio yang stabil (30‑45 %).
Instrumen Derivatif (Future IHSG, Options) Hedging Digunakan untuk melindungi portofolio bila volatilitas meningkat (mis. sell‑future atau buy‑put pada level 9.200).

6. Outlook Makro‑Ekonomi 2026

Indikator Proyeksi 2026 Implikasi
Pertumbuhan PDB Indonesia 5,2 % (Bank Indonesia) Membuka ruang bagi profit corporate, terutama di sektor konsumer dan infrastruktur.
Inflasi CPI 4,6 % (target BI) Jika tercapai, memberi ruang bagi suku bunga tetap atau turun, menurunkan biaya pendanaan.
Nilai Tukar IDR/USD Rp 15.300 (± 300) Stabilitas nilai tukar membantu perusahaan import‑dependent dan mengurangi risiko kurs pada portofolio saham.
Rata‑rata PE IHSG 14,2× (fair value) Menjaga keseimbangan antara upside potensial dan risiko overvaluation.
Dividend Yield 4,9 % – 5,2 % Menjaga total return investor di atas 9 % bila IHSG mencapai 9.440.

7. Kesimpulan

  1. Kinerja 2025 yang luar biasa (22,13 % YoY) menandakan pemulihan kuat setelah tekanan COVID‑19 dan geopolitik.
  2. Fundamental masih kuat: EPS korporasi mulai menunjukkan pemulihan, valuasi relatif murah, dan dividend yield tinggi.
  3. Proyeksi 2026 mengindikasikan pertumbuhan lebih moderat (9‑13,5 % pada skenario bullish), dipengaruhi oleh faktor eksternal (moneter AS, inflasi) dan internal (pemulihan EPS Q4‑2025).
  4. Investor sebaiknya tetap fokus pada saham blue‑chip dan sektor defensif untuk mengamankan aliran dividen sambil menyiapkan alokasi selektif ke saham pertumbuhan yang memiliki fundamental kuat.
  5. Penggunaan instrumen hedging (future IHSG, options) serta diversifikasi ke obligasi domestik dapat melindungi portofolio dari potensi volatilitas yang mungkin muncul pada 2026.

Secara keseluruhan, IHSG berada pada posisi yang menguntungkan untuk menambah nilai bagi investor jangka menengah, asalkan mereka memperhatikan sinyal-sinyal makro yang dapat memperlambat laju pertumbuhan dan menerapkan manajemen risiko yang tepat.


Catatan: Analisis di atas bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat keuangan profesional. Selalu lakukan due‑diligence serta pertimbangkan profil risiko pribadi sebelum mengambil keputusan investasi.