INET Siapkan Langkah Besar: Akuisisi Mayoritas SGI dan Ekspansi ke Bisnis

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 13 April 2026

Tanggapan Lengkap

1. Ringkasan Rencana Strategis INET

  • Akuisisi 60 % saham PT Sarana Global Indonesia (SGI) melalui penerbitan 180.000 lembar saham baru dengan harga Rp 1.557.799 per lembar (setara Rp 280,4 miliar atau 65,3 % ekuitas INET).
  • SGI adalah kontraktor kabel bawah laut yang memiliki dua cable‑laying vessels (kapal penanaman kabel).
  • Penambahan lini bisnis: Perdagangan besar peralatan telekomunikasi (RAN, FTTH, CPE, FWA, dll).
  • Proyeksi laba bersih dari unit baru:
    • 2026 – Rp 4,66 miliar
    • 2027 – Rp 9,23 miliar
    • 2028 – Rp 11,67 miliar
    • 2029 – Rp 14,6 miliar
    • 2030 – Rp 15,72 miliar
  • Kedua keputusan akan dibahas pada RUPSLB 19 Mei 2026.

2. Analisis Strategis Akuisisi SGI

Aspek Penjelasan
Sinergi Operasional • SGI menyediakan in‑house capability untuk

penanaman kabel bawah laut, mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.
• Dua kapal penanaman memberikan fleksibilitas dalam mengelola proyek di Pulau Jawa dan Kalimantan, wilayah yang menjadi target pertumbuhan INET. | | Peningkatan Kapasitas Penetrasi Pasar | • Dengan kontrol atas infrastruktur kabel, INET dapat menawarkan paket “design‑build‑operate” kepada operator telekomunikasi, meningkatkan nilai tawar dalam tender jaringan submarine. | | Diversifikasi Risiko | • Pendapatan dari layanan kabel bawah laut (proyek pemerintah, perjanjian B2B) bersifat kontraktual dan berjangka panjang, menyeimbangkan volatilitas pasar perdagangan peralatan. | | Akses ke Proyek Pemerintah | • Pemerintah Indonesia menargetkan ekspansi jaringan fiber submarines ke seluruh kepulauan (Program National Digital Backbone). Kepemilikan kapal penanaman memberi INET posisi kompetitif untuk ikut serta. | | Efisiensi Modal | • Pembiayaan melalui penyertaan modal (bukan utang) menjaga rasio leverage tetap moderat, penting mengingat profil risiko industri infrastruktur tinggi. |

2.1 Dampak pada Struktur Kepemilikan

  • Dengan penyertaan modal sebesar Rp 280,4 miliar, ekuitas INET akan terdilusi (65,3 % menjadi milik pemegang saham baru). Namun, nilai total perusahaan diharapkan meningkat secara signifikan karena penambahan aset strategis.
  • Pemegang saham harus menilai dilusi vs. potensi upside: peningkatan EBITDA dan cash flow jangka panjang dari SGI dapat meningkatkan EV/EBITDA dan BEP (break‑even point) lebih cepat.

3. Evaluasi Penambahan Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi

3.1 Target Segmen Pasar

  1. Operator Tele‑komunikasi (RAN & Backbone)
    • Kebutuhan perangkat Radio Access Network (antena, baseband, BBU) terus meningkat seiring roll‑out 5G dan persiapan 6G.
  2. Internet Service Provider (ISP) – FTTH & CPE
    • Dampak “digitalisasi rumah” dan regulasi pemerintah yang mendorong penetrasi fiber ke 100 % rumah tangga.
  3. Penyedia Layanan Fixed Wireless Access (FWA)
    • Solusi cepat untuk kawasan terpencil, memerlukan integrasi CPE yang handal.

3.2 Proyeksi Keuangan

  • Margin laba bersih yang diproyeksikan naik secara progresif (≈ 5‑9 % pada 2026‑2030) menandakan learning curve dan skala ekonomi yang diharapkan.
  • Penambahan bisnis ini memungkinkan cross‑selling: klien SGI yang menggunakan jasa penanaman kabel dapat menjadi pembeli peralatan FTTH/FWA, meningkatkan share of wallet.

3.3 Kelebihan Kompetitif

  • Jaringan Distribusi: INET sudah memiliki jaringan logistik untuk proyek infrastruktur; extend ini ke peralatan telekomunikasi memperpendek lead time.
  • Keahlian Teknis: Tim teknik yang terbiasa dengan instalasi kabel bawah laut sudah memahami standar kedalaman, tekanan air, dan integritas jaringan, yang relevan untuk penanganan peralatan fiber optik high‑capacity.
  • Brand Trust: Kolaborasi dengan operator utama (Telkom, Indosat, XL) dapat mempermudah onboarding produk baru.

4. Risiko dan Tantangan yang Perlu Diperhatikan

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Regulasi & Izin Perizinan penanaman kabel di wilayah laut dapat
terhambat oleh birokrasi atau tuntutan lingkungan. Lakukan *early

engagement dengan Kementerian Kelautan & Perikanan serta Sumber Daya Alam. | | Fluktuasi Nilai Tukar | Proyek internasional (import kapal, peralatan) sensitif terhadap IDR/USD. | Hedging mata uang, kontrak harga tetap dengan pemasok. | | Kapasitas Kapal | Dua kapal mungkin tidak cukup untuk menampung lonjakan permintaan proyek regional. | Rencana lease atau joint‑venture dengan operator kapal lain. | | Persaingan Bisnis Perdagangan | Pemain besar (Cisco, Nokia, Huawei) dominan dalam RAN. | Fokus pada channel distribusi niche, solusi integrasi, serta layanan after‑sales yang kuat. | | Dilusi Kepemilikan | Pemegang saham lama dapat terganggu oleh penurunan persentase kepemilikan. | Komunikasi transparan, penjelasan nilai tambah proyek, serta penawaran rights issue* untuk menjaga proporsi kepemilikan bila diperlukan. |


5. Implikasi bagi Pemegang Saham & Investor

  1. Peningkatan Valuasi Jangka Panjang

    • Kombinasi infrastruktur (kabel submarine) dan perdagangan peralatan menciptakan model bisnis vertical integration yang dapat meningkatkan multiple EV/EBITDA dibandingkan peer yang hanya fokus satu sisi.
  2. Arus Kas Positif Lebih Cepat

    • Proyek penanaman kabel biasanya memiliki milestone payment yang terstruktur, sementara perdagangan peralatan memberikan cash flow steady dari margin penjualan. Kombinasi ini dapat mengurangi ketergantungan pada pembiayaan eksternal.
  3. Risiko Dilusi vs. Upside

    • Penyertaan modal sebesar Rp 280,4 miliar mengakibatkan dilusi kepemilikan. Namun, jika akuisisi berhasil meningkatkan EBITDA > 50 % dalam tiga tahun, nilai saham per lembar dapat meningkat signifikan, menutupi efek dilusi.
  4. Kebutuhan Persetujuan RUPSLB

    • Keberhasilan RUPSLB pada 19 Mei 2026 menjadi gatekeeper utama. Investor harus memantau agenda RUPSLB, termasuk kemungkinan feedback regulator, atau penyesuaian syarat emisi saham.

6. Outlook Pasar Telekomunikasi Indonesia (2025‑2030)

  • Pemerintah menargetkan 70 % rumah tangga terhubung dengan FTTH pada 2028 dan pembangunan backbone submarine sebesar 30 000 km untuk menghubungkan 70 % pulau besar.
  • 5G Roll‑out diperkirakan akan menempati 30 % total jaringan seluler pada 2026, meningkatkan permintaan perangkat RAN dan backhaul fiber.
  • FWA menjadi solusi utama untuk daerah terpencil; pasar diproyeksikan tumbuh CAGR ≈ 18 % (2025‑2030).

Konteks ini memberikan tailwinds kuat bagi INET – baik untuk pengerjaan proyek infrastruktur kabel maupun penjualan peralatan yang mendukung jaringan tersebut.


7. Kesimpulan & Rekomendasi

  • Keputusan akuisisi SGI merupakan langkah strategis yang menambah kapabilitas operasional (cable laying vessels) serta meningkatkan penetrasi pasar pada wilayah Jawa‑Kalimantan yang merupakan ujung tombak pertumbuhan telekomunikasi.
  • Penambahan lini bisnis perdagangan peralatan melengkapi ekosistem layanan, memungkinkan cross‑selling dan penciptaan nilai tambah bagi klien yang sama.
  • Proyeksi laba bersih yang positif dan meningkat (Rp 4,66 miliar – Rp 15,72 miliar) menunjukkan potensi kontribusi signifikan terhadap bottom line INET dalam lima tahun ke depan.
  • Risiko utama tetap berada pada regulasi kelautan, kapasitas kapal, dan kompetisi dalam perdagangan peralatan. Mitigasi proaktif (kerjasama strategis, hedging, diversifikasi sumber kapal) penting untuk mengurangi eksposur.
  • Untuk pemegang saham, rekomendasi adalah memberikan dukungan pada RUPSLB, dengan catatan:

    1. Memantau realisasi integrasi SGI (pencapaian milestone proyek).

    2. Memastikan tata kelola keuangan tetap konservatif (leverage < 3,0x).

    3. Mengawasi perkembangan margin pada bisnis perdagangan peralatan yang masih dalam fase awal.

Jika implementasi berjalan sesuai rencana, INET berpotensi bertransformasi menjadi pemain terintegrasi dalam rantai nilai telekomunikasi Indonesia, menyasar pendapatan total > Rp 2 triliun pada akhir dekade. Ini dapat menghasilkan ROI yang menarik bagi investor institusional dan meningkatkan likuiditas saham di bursa.


Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Investor disarankan melakukan due‑diligence lebih lanjut serta mempertimbangkan profil risiko masing‑masing.