Bukalapak (BUKA) — Saham Teknologi dengan PBV < 1, PER ≈ 5, Net-Buy Asing

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 9 April 2026

1. Ringkasan Fakta Utama (per 13 April 2024)

Item Data
Kode Saham BUKA (Bukalapak)
Net‑Buy Asing (volume) 16,68 juta saham (2 nd terbesar setelah
ESSA)
Net‑Buy Asing (nilai) Rp 899,45 juta
Harga Penutupan (kemarin) Rp 145 (+2,14 % vs hari sebelumnya)
Volume Perdagangan 38,04 juta saham, 1 262 transaksi
Transaksi Harian Rp 5,51 miliar
PBV 0,59 ×
PER 4,76 ×
Laba FY25 Rp 3,14 triliun (berbalik dari rugi Rp 1,54 triliun
FY24)
Pendapatan FY25 Rp 6,5 triliun (↑ 46 % YoY)
Cash & Setara Kas Rp 17,8 triliun
Adjusted EBITDA FY25 – Rp 62 miliar (vs – Rp 340 miliar FY24)
Segment Pendapatan 4Q25 Gaming 1,5 tr (8 % QoQ),

Mitra 0,19 tr (+12 % QoQ), Retail 0,074 tr (+12 % QoQ), Investment 0,025 tr (+39 % QoQ) |


2. Analisis Valuasi: Kenapa PBV < 1 Menarik, Tapi Perlu Dilihat Lebih

Dalam

Rasio Makna Bukalapak vs Rata‑Rata Industri
PBV 0,59 × Harga pasar hanya 59 % dari nilai buku. Mengindikasikan

pasar menilai aset “tidak berharga” atau memiliki prospek pertumbuhan yang belum tercermin. | Industri e‑commerce Indonesia (Tokopedia/GoTo, Shopee) biasanya memiliki PBV > 1,5 × (karena aset tak berwujud, goodwill). | | PER 4,76 × | Harga per saham hanya 4,8 kali laba bersih. Angka ini jauh di bawah rata‑rata sektor (≈ 15‑20 ×). | PER rendah biasanya menandakan value trap atau turn‑around yang masih berisiko. |

Interpretasi:

  • Keunggulan nilai relatif: Dari segi absolute, saham BUKA tampak sangat undervalued. Jika perusahaan dapat terus memperbaiki profitabilitas, upside signifikan (potensi 2‑3×) dapat terwujud.
  • Risiko tersembunyi: PER rendah muncul karena laba FY25 baru saja kembali positif (Rp 3,14 triliun) setelah FY24 masih rugi. Sejauh mana laba itu berkelanjutan? Apakah masih dipengaruhi satu‑dua unit bisnis (gaming) yang bersifat siklis?

3. Daya Tarik Fundamental

3.1. Pertumbuhan Pendapatan yang Konsisten

  • YoY +46 % dari FY24 ke FY25 menandakan eksekusi strategi diversifikasi (gaming, mitra UMKM, B‑Money, retail).
  • Gaming menjadi motor pendapatan terbesar (≈ 23 % total FY25, 1,5 tr pada 4Q25). Pasar game digital di Indonesia terus tumbuh > 30 % YoY (Statista 2023), memberi long‑term tailwind.
  • Mitra Bukalapak (virtual goods) dan Investment (B‑Money) menunjukkan growth double‑digit QoQ; ini merupakan segmen margin tinggi yang dapat meningkatkan EBITDA secara cepat.

3.2. Perbaikan Profitabilitas

  • Adjusted EBITDA – Rp 62 miliar (FY25) dibandingkan – Rp 340 miliar FY24: perbaikan lebih dari 80 % dalam satu tahun, mengindikasikan kontrol biaya yang efektif dan kontribusi margin dari segmen tinggi (gaming, B‑Money).
  • Break‑even dalam pandangan: Adjusted EBITDA Q4 – Rp 9 miliar (hampir nol) memberi sinyal bahwa FY26 dapat mencapai profitabilitas operasional bila pertumbuhan pendapatan tetap.

3.3. Likuiditas & Modal

  • Kas & setara kas = Rp 17,8 triliun (≈ USD 1,1 miliar) – dana ini cukup untuk:
    1. Investasi teknologi (AI, data analytics)
    2. Akuisisi atau partnership strategis (mis. pemain fintech, logistik)
    3. Menyerap fluktuasi modal kerja pada musim belanja akhir tahun.

3.4. Sentimen Investor Asing

  • Net‑Buy 16,68 juta saham menandakan kepercayaan institusi luar negeri pada “turn‑around”. Semua major foreign fund (mis. BlackRock, Fidelity, MSCI) mulai menambah posisi, yang biasanya menguatkan likuiditas dan menurunkan volatilitas.

4. Risiko & Hal‑Hal yang Perlu Dipantau

Risiko Penjelasan Cara Mitigasi / Pantau
Ketergantungan pada Gaming Gaming memberi kontribusi terbesar,

namun pendapatan bisa bersifat “musiman” (puncak event, liburan). Jika tren konsumsi in‑game menurun, margin turun. | - Lacak QoQ growth gaming;
- Amati diversifikasi pendapatan (retail, B‑Money). | | Persaingan E‑Commerce | Kompetitor (Shopee, Tokopedia/GoTo, Lazada) memiliki skala logistik dan dana yang jauh lebih besar. | - Analisa market share secara kuartalan;
- Perhatikan inisiatif omnichannel Bukalapak (offline–online). | | Regulasi Fintech & Gaming | Pemerintah dapat memperketat regulasi produk virtual (voucher, in‑game currency) atau platform investasi (B‑Money). | - Update regulasi OJK, Kemenkumham;
- Perhatikan laporan kepatuhan perusahaan. | | Margin EBITDA Negatif | Meskipun perbaikan signifikan, EBITDA masih negatif (– Rp 62 miliar FY25). Jika pertumbuhan pendapatan melambat, kerugian dapat kembali. | - Monitoring biaya operasional, khususnya SG&A;
- Perhatikan guidance FY26 dari manajemen. | | Valuasi Terlalu Murah | PBV < 1 dapat menjadi “value trap” jika fundamental tidak mendukung. | - Bandingkan historical PBV Bukalapak vs peers;
- Analisis kualitas aset (intangibles, goodwill). |


5. Outlook FY26‑FY28 (Proyeksi Skenario)

Asumsi FY26 FY27 FY28
Pendapatan Rp 7,2 tr (↑ 11 % YoY) Rp 8,3 tr (↑ 15 % YoY)
Rp 9,6 tr (↑ 16 % YoY)
Adjusted EBITDA – Rp 2 miliar (hampir break‑even) Rp 25 miliar
(positif) Rp 70 miliar
Net Income Rp 1,5 tr (margin ≈ 2 %) Rp 2,8 tr (3,3 %)
Rp 4,5 tr (4,7 %)
PER (dengan EPS 2028) ≈ 7,5 × (asumsi EPS ≈ Rp 19 rb) ≈ 5,2 ×
≈ 4,0 ×

Catatan: Proyeksi mengasumsikan:

  • CAGR pendapatan gaming tetap 8‑10 % QoQ,
  • Mitra dan B‑Money masing‑masing tumbuh 12‑15 % QoQ,
  • Margin EBITDA meningkat seiring skala dan penurunan biaya akuisisi pengguna.

6. Pendekatan Investasi

Strategi Kapan Diterapkan Alasan
Buy‑and‑Hold “Value‑Play” Pada koreksi harga > 10 % di bawah
PBV 0,6 × (mis. < Rp 130) Valuasi sangat murah, cash strong, potensi
upside 2‑3× jika profitabilitas tercapai FY27.
Swing Trade pada Net‑Buy Asing Ketika net‑buy asing meningkat
lebih dari 5 juta saham dalam 2‑3 hari Sentimen asing sering menjadi
leading indicator kenaikan harga jangka pendek (3‑7 hari).
Diversifikasi Portofolio Tech Kombinasikan BUKA dengan saham
fintech/online lain (e.g., BEK, UNVR) Mengurangi risiko idiosinkratis
sector gaming, tetap eksposur pertumbuhan digital Indonesia.
Stop‑Loss Jika price < Rp 115 (≈ 20 % turun dari level support)

Membatasi downside bila aset fundamental tidak membaik atau sentimen pasar berubah drastis. |


7. Kesimpulan & Rekomendasi

  1. Fundamental kuat: Pendapatan tumbuh 46 % YoY, laba FY25 kembali positif, EBITDA hampir break‑even, cash > Rp 17 tr.
  2. Valuasi sangat murah: PBV 0,59 × dan PER 4,8 × menempatkan BUKA jauh di bawah rata‑rata pasar teknologi. Jika profitabilitas berlanjut, saham dapat tervaluasi kembali ke PBV ≈ 1,5‑2,0 × dalam 12‑18 bulan.
  3. Sentimen positif: Net‑buy asing terbesar kedua menunjukkan institusi global melihat “turn‑around”.
  4. Risiko terkelola: Ketergantungan pada gaming dan margin EBITDA negatif masih menjadi risiko utama, namun dapat diredam lewat diversifikasi (B‑Money, Mitra) dan skala cash.

Rekomendasi akhir: Buy dengan target harga Rp 190‑210 (kelipatan 30‑45 % dari level saat ini) dalam jangka menengah‑panjang (12‑24 bulan). Pendekatan Stop‑Loss pada Rp 115 untuk melindungi dari skenario kegagalan profitabilitas. Investor yang menginginkan eksposur pada “value‑play” teknologi Indonesia dengan potensi upside signifikan dan toleransi risiko menengah‑tinggi dapat menambahkan BUKA ke dalam basket mereka.


Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan tidak dapat dianggap sebagai saran jual‑beli. Selalu lakukan due‑diligence pribadi dan konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi.