Gelombang Beli Besar Asing Mengguncang IHSG: BUMI, MDKA & TLKM Jadi Magnet Modal, Namun Seberapa Sustainable?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 27 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum Pergerakan Pasar Hari Ini

Pada sesi perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir pada 8.235,2, mencatat penurunan 86,97 poin atau ‑1,04 %. Meskipun indeks menurun, data Stockbit menunjukkan net buy asing sebesar Rp 341,26 miliar di seluruh bursa. Total nilai transaksi hari itu mencapai Rp 27,9 triliun dengan volume 54,03 miliar lembar saham, menandakan aktivitas yang tetap tinggi meski harga indeks melemah.

2. Saham‑Saham yang Mencuri Perhatian Asing

Peringkat Kode / Nama Perusahaan Net Buy (Rp miliar) Kategori Utama
1 BUMI – PT Bumi Resources Tbk 171,0 Pertambangan & Energi
2 MDKA – PT Merdeka Copper Gold Tbk 128,3 Pertambangan (Emas & Tembaga)
3 TLKM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk 117,6 Telekomunikasi
4 BBRI – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 108,8 Perbankan (Ritel)
5 BMRI – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 70,6 Perbankan (Korporasi)
6 ASII – PT Astra International Tbk 59,8 Industrialisasi & Otomotif
7 MBMA – PT Merdeka Battery Materials Tbk 56,6 Material Battery (EV)
8 DEWA – PT Dharma Henwa Tbk 49,4 Bahan Kimia & Petrokimia
9 INDF – PT Indofood Sukses Makmur Tbk 34,2 Consumer Goods (Makanan)
10 SUPA – PT Super Bank Indonesia Tbk 32,7 Perbankan (Syariah)

3. Analisis Penyebab Net Buy Besar Asing

Faktor Penjelasan
Harga Komoditas Global Harga tembaga, emas, dan batu bara kembali menguat pada kuartal pertama 2026, memicu aliran dana ke sektor pertambangan (BUMI, MDKA, MBMA, DEWA). Investor asing melihat potensi margin yang lebih lebar serta cadangan yang masih dapat dieksploitasi.
Sentimen Terhadap Telekomunikasi TLKM mendapatkan dorongan karena rencana rollout jaringan 5G yang lebih agresif, serta prospek pendapatan dari layanan data dan cloud. Valuasi TLKM dipandang masih “discounted” bila dibandingkan dengan rekan global di sektor telekom.
Kebijakan Moneter Indonesia Meski BI mempertahankan tingkat suku bunga yang relatif tinggi (6,5 % – 6,75 % dalam rentang 2025‑2026), spread suku bunga antara Indonesia dan negara maju masih menguntungkan bagi investor yang mencari yield lebih tinggi, terutama di sektor perbankan.
Fundamental Perbankan yang Kuat BBRI dan BMRI mencatat NPL yang menurun, rasio CAR yang sehat, serta pertumbuhan kredit yang konsisten. Hal ini menjadikan kedua bank sebagai “safe‑haven” bagi portofolio asing dalam konteks volatilitas pasar ekuitas.
Investasi ESG & EV MBMA muncul sebagai pilihan karena fokus pada material batre (lithium, nikel). Investor institusional asing yang mengintegrasikan ESG kini menambah eksposur ke rantai pasokan kendaraan listrik, yang diproyeksikan tumbuh >30 % per tahun di Asia Tenggara.
Diversifikasi Portofolio Dengan lebih dari 800 saham terdaftar, institusi asing cenderung menyebar alokasi untuk mengurangi risiko spesifik. Itulah mengapa kita melihat aliran dana tidak hanya ke satu sektor melainkan tersebar di 10 saham teratas.

4. Mengapa IHSG Tetap Menurun di Tengah Net Buy?

  1. Kelebihan Penjualan oleh Investor Lokal
    • Data menunjukkan 594 saham turun, jauh lebih banyak dibanding 157 yang naik. Penjualan saham oleh investor domestik (ritel + dana pensiun) menahan kenaikan indeks.
  2. Sentimen Makro yang Masih Cemas
    • Daya beli konsumen Indonesia dipengaruhi oleh inflasi inti yang tetap di atas target (4,5 %).
    • Kekhawatiran geopolitik (ketegangan di Laut China Selatan, kebijakan proteksionis AS) menambah “risk‑off” di pasar emerging.
  3. Tekanan Nilai Tukar Rupiah
    • Rupiah melemah sekitar 2 % terhadap dolar dalam minggu terakhir, mengurangi daya beli investor asing pada saham-saham yang sensitif terhadap kurs (misalnya import‑heavy).
  4. Korelasi Negatif Antara Net Buy dan Harga
    • Net buy yang besar pada saham-saham high‑cap (seperti TLKM, BBRI) tidak selalu cukup untuk mengangkat indeks secara keseluruhan ketika mayoritas saham‑saham kecil mengalami penurunan.

5. Implikasi untuk Investor Ritel Indonesia

Strategi Rationale
Fokus pada Saham “Berat” (Blue‑Chip) BUMI, MDKA, TLKM, BBRI, BMRI menunjukkan dukungan kuat dari aliran dana institusional asing. Menambah atau menambah porsi di saham ini dapat memberikan “buffer” terhadap volatilitas pasar.
Eksposur ke Sektor ESG & Battery MBMA dan DEWA menjadi pintu gerbang ke tren EV dan transisi energi. Bagi ritel yang ingin menambah “future‑proof” exposure, alokasi kecil (~5‑10 %) dapat dipertimbangkan.
Diversifikasi Lintas Sektor Karena mayoritas saham turun, tetap penting untuk tidak memusatkan seluruh portofolio pada top‑10 saja. Pilih beberapa saham mid‑cap dengan fundamental kuat untuk meningkatkan diversifikasi.
Menggunakan Instrumen Derivatif Jika volatilitas diprediksi akan terus tinggi, opsi put atau futures index dapat dipakai untuk melindungi nilai portofolio.
Pantau Kebijakan BI dan Kurs Pergerakan suku bunga dan nilai tukar akan tetap menjadi faktor utama bagi profitabilitas sektor finansial dan komoditas.

6. Outlook 2026 – 2027

Skenario Keterangan
Skenario Optimistis Harga komoditas tetap tinggi, TLKM berhasil meningkatkan ARPU lewat layanan data, dan kebijakan fiskal mendukung investasi infrastruktur. IHSG dapat kembali menembus level 8.800‑9.000 dalam 6‑12 bulan ke depan.
Skenario Moderat Komoditas mengalami koreksi ringan (10‑15 %); inflasi menurun perlahan hingga target 4‑4,5 %; kebijakan moneter tetap stabil. IHSG berfluktuasi antara 8.300‑8.600, dipengaruhi oleh aliran dana asing yang tetap mengincar saham “safe haven”.
Skenario Pessimist Geopolitik memicu “risk‑off” global; Rupiah melemah lebih dari 5 % dalam 3‑4 bulan; kebijakan BI harus menaikkan suku bunga lagi. IHSG dapat turun di bawah 7.800, dengan penjualan luas di sektor consumer dan properti.

7. Rekomendasi Kebijakan untuk Regulator

  1. Meningkatkan Transparansi Data Kapitalisasi Asing – Publikasi real‑time net buy/net sell per sektor akan membantu pasar menilai aliran modal.
  2. Mendorong Penerbitan Sekuritas Hijau – Memfasilitasi perusahaan ESG (seperti MBMA) dalam mengakses dana asing yang terikat pada kriteria lingkungan.
  3. Penguatan Infrastruktur Pasar Derivatif – Mempermudah akses hedging bagi investor institusional dan ritel, sehingga volatilitas harga dapat diredam.
  4. Kebijakan Tukar Ringan – Intervensi yang bersifat “soft” (swap, likuiditas) untuk menahan pergerakan Rupiah yang berlebihan, yang dapat memicu aliran keluar modal.

8. Kesimpulan

Meskipun IHSG menunjukkan penurunan pada penutupan Kamis, net buy asing sebesar Rp 341,26 miliar mempertegas keyakinan investor asing terhadap fundamental beberapa perusahaan terpilih. BUMI, MDKA, TLKM, BBRI, dan BMRI menjadi magnet utama, mencerminkan kombinasi antara harga komoditas yang menguat, prospek pertumbuhan sektor telekomunikasi, serta kebijakan moneter Indonesia yang masih menarik bagi aliran dana mencari yield lebih tinggi.

Namun, penurunan indeks secara keseluruhan mengingatkan bahwa dukungan asing belum cukup untuk mengimbangi tekanan jual dari investor domestik dan faktor makroekonomi yang masih rawan. Bagi investor ritel, strategi yang bijak adalah memilih saham blue‑chip yang didukung aliran dana institusional sekaligus menambahkan eksposur terukur pada sektor ESG dan material battery.

Ke depan, kinerja IHSG akan sangat dipengaruhi oleh arah harga komoditas, stabilitas nilai tukar Rupiah, dan kebijakan moneter BI. Jika ketiga faktor tersebut dapat dikelola dengan baik, aliran modal asing berpotensi beralih dari “net buy” menjadi “net sell” yang lebih konsisten, menstimulasi pergerakan indeks ke level yang lebih tinggi. Jika tidak, tekanan jual dapat berlanjut dan menurunkan kembali indeks.

Pengawasan regulator, peningkatan likuiditas pasar derivatif, serta transparansi data aliran modal akan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara aliran masuknya dana asing dan kestabilan harga saham domestik. Dengan kerangka kerja yang tepat, pasar saham Indonesia dapat memanfaatkan momentum net buy asing sebagai katalis pertumbuhan yang berkelanjutan.