Nasib Saham Konglomerat di 2026: Antara Optimisme Pemulihan dan Seleksi Cermat – Apa yang Harus Diperhatikan Investor?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 21 December 2025

1. Ringkasan Riset BRI Danareksa Sekuritas

Aspek Penjelasan
Kondisi IHSG YTD (hingga 17 Des 2025) Naik +23 % → kapitalisasi pasar Rp 15.873 triliun.
Kontribusi Saham Konglomerasi Rp 2.432 triliun (≈ 15 % kapitalisasi total) – naik ≈ 50 % YTD.
Target IHSG akhir 2026 9.440 (PE 14,2×, EPS +8 % YoY).
Bull case: 9.820 (EPS +10 %).
Bear case: 9.135 (EPS +6 %).
Proyeksi kenaikan kapitalisasi saham konglomerasi +17 % – 32 % bila tren YTD berlanjut.
Visibilitas sektor 2026 Tele‑komunikasi (+7 % EBITDA), Perunggasan (+4 % EPS), Ritel (+16 % EPS).
Bank & Konsumer: EPS +4 % – 6 % (pertumbuhan lemah).
Logam (Nikel, Emas, Timah): EPS +27 % (didukung volume proyek dan ekspansi).

2. Mengapa Saham Konglomerasi Masih Menarik di 2026?

  1. Fundamental yang Menguat

    • PE 14,2× berada di level rata‑rata 5‑tahun (14,1×). Ini menandakan valuasi tidak berlebih, bahkan masih ada “head‑room” bagi upside bila earnings meningkat.
    • EPS diproyeksikan +8 % YoY – angka realistis karena basis 2025 yang rendah (laba 9 bulan –7 % YoY, tetapi ada bounce +14 % QoQ pada Q3‑2025).
  2. Peningkatan Partisipasi Institutional

    • Investor institusional domestik & asing meningkatkan alokasi pada “blue‑chip” konglomerat di semester II‑2025. Keterlibatan ini cenderung menstabilkan likuiditas dan menurunkan volatilitas jangka pendek.
  3. Diversifikasi Internal

    • Konglomerasi (mis. BBRI, BBCA, BBTN, BTPN) memiliki eksposur lintas sektor (perbankan, infrastruktur, konsumer, telekomunikasi, logam) yang memungkinkan mereka menyeimbangkan risiko sektoral yang berbeda.
  4. Kebijakan Pemerintah & Infrastruktur

    • Rencana “MP3EI” (Masyarakat Produktif, Produktif, dan Inovatif) 2025‑2029 serta proyek infrastruktur berkelanjutan memberi peluang pendapatan tambahan (mis. toll road, energi terbarukan).

3. Risiko yang Harus Diwaspadai

Risiko Penjelasan Dampak Potensial
Pemulihan Laba yang Belum Solid Q3‑2025 dipengaruhi faktor musiman; masih dibutuhkan konfirmasi pada Q4‑2025 – Q1‑2026. Jika laba tetap lemah, EPS 2026 bisa turun ke skenario bear (6 %).
Ketergantungan pada Ekspor Komoditas Harga nikel diprediksi datar; logam lain (emas, timah) lebih bergantung pada permintaan global. Penurunan harga logam dapat menurunkan EPS logam (27 % saat ini).
Kebijakan Moneter Global Suku bunga AS yang tinggi dapat mengalirkan capital outflow dari emerging market. Penurunan aliran dana asing, valuasi PE dapat tertekan.
Regulasi Sektor Keuangan Jika otoritas menambah persyaratan modal atau menguatkan pengawasan, profit margin perbankan dapat tertekan. EPS perbankan (4 %) dapat menurun lebih jauh.
Geopolitik & Rantai Pasok Konflik geopolitik di Asia Pasifik atau gangguan rantai pasok (semikonduktor, bahan baku logam). Menurunkan Outlook sektor telekomunikasi & logam.

4. Sektor‑Sektor “Pilih‑Pilih” 2026 – Apa yang Patut Diperhatikan Investor?

4.1 Tele‑komunikasi (EBITDA +7 %)

  • Pendorong: Penetrasi 5G yang semakin luas, layanan data konsumen & enterprise, serta diversifikasi ke layanan cloud & IoT.
  • Pemain Utama: Telkom Indonesia (TLKM), Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), XL Axiata (EXCL).
  • Catatan: Persaingan tarif tetap ketat; fokus pada margin layanan data berulang (ARPU) menjadi kunci.

4.2 Perunggasan (EPS +4 %)

  • Pendorong: Permintaan domestik yang stabil (protein hewani), serta peluang ekspor ke pasar Timur Tengah & Afrika.
  • Pemain Utama: Japfa (JFAA), Sierad Produce (SIPD), Charoen Pokphand (CPRI) yang memiliki operasi di Indonesia.
  • Catatan: Fluktuasi harga pakan dan risiko penyakit (avian influenza) dapat memengaruhi margin.

4.3 Ritel (EPS +16 %)

  • Pendorong: Konsumsi yang kembali pulih pasca‑pandemi, pergeseran ke omnichannel, peningkatan daya beli kelas menengah.
  • Pemain Utama: Matahari Department Store (LPPF), Hero Supermarket (HR), Transmart (TMAS), e‑commerce hybrid (S&B).
  • Catatan: Persaingan dengan e‑commerce m‑global (Shopee, Tokopedia) menuntut inovasi dalam logistik dan loyalty program.

4.4 Logam (EPS +27 %)

  • Pendorong: Expansi proyek nikel, timah, & emas; kebijakan pemerintah mendorong penambangan “high‑value added”.
  • Pemain Utama: PT Bukit Mikro Invest (BRMS), PT Vale Indonesia (INCO), PT Mitra Bara Mas (MBMA), Timah (TINS), Dewantara (DEWA).
  • Catatan: Harga nikel diperkirakan datar; fokus pada nilai tambah (processing, smelting) dan diversifikasi ke emas/timah memberi buffer.

4.5 Perbankan & Konsumer (EPS masing‑masing +4 % & +6 %)

  • Pendorong: Stabilitas suku bunga, peningkatan kredit mikro‑UMKM, namun pertumbuhan kredit ritel masih lemah.
  • Pemain Utama: BRI, BCA, Mandiri, BNI, serta grup konsumer (Unilever Indonesia, Coca‑Cola Amatil).
  • Catatan: Karena EPS rendah, investor sebaiknya menilai quality of earnings (NPL, ROE, cost‑to‑income). Pilih bank dengan rasio NPL terendah dan jaringan distribusi luas.

5. Rekomendasi Portofolio 2026 (Berbasis Riset BRI Danareksa)

Alokasi Sektor Tick/Code Alasan Pemilihan
30 % Konglomerasi (Blue‑Chip) BBRI, BBCA, BMRI Valuasi PE 14,2×, EPS +8 %; eksposur luas, likuiditas tinggi.
20 % Logam – Emas & Timah BRMS, TINS EPS +27 %, volume proyek naik, bahan baku strategic.
15 % Telekomunikasi TLKM, EXCL EBITDA +7 %, 5G rollout, pendapatan data berulang meningkat.
10 % Ritel LPPF, HR EPS +16 %, konsumsi kelas menengah pulih, omnichannel.
10 % Perunggasan JFAA, SIPD EPS +4 %, permintaan protein domestik stabil, ekspor potensial.
10 % Cash/Euro‑Dollar Hedge volatilitas global, persiapan beli opportunistik.
5 % Fixed Income Korporasi (ADB, JICA‑backed) Diversifikasi risiko, pendapatan tetap di tengah ketidakpastian EPS.

Catatan: Proporsi dapat disesuaikan dengan profil risiko masing‑masing (agresif vs. konservatif). Investor harus memonitor rasio P/E, forward‑looking EPS, serta kebijakan moneter global secara berkala.


6. Langkah‑Langkah Praktis untuk Investor

  1. Pantau Data Earnings Q4‑2025 – Q1‑2026

    • Pastikan EPS dalam kisaran +5 % – +11 % YoY (mengonfirmasi proyeksi BRI Danareksa).
    • Lihat margin operasional (EBITDA/Revenue) terutama di sektor logam & telekom.
  2. Cek Sentimen Institutional Flow

    • Laporan kepemilikan institusional (LKI) – kenaikan > 5 % di saham konglomerasi menandakan confidence.
  3. Gunakan Analisis Teknikal untuk Entry Point

    • Pada indeks IHSG, level support 9.100 dan resistance 9.440 (target) dapat menjadi acuan.
    • Untuk saham individu, perhatikan moving‑average 50‑day vs 200‑day (golden cross) sebagai sinyal tren naik.
  4. Manajemen Risiko

    • Set stop‑loss 7‑10 % di bawah harga entry untuk saham dengan volatilitas tinggi (logam, ritel).
    • Gunakan trailing stop untuk mengunci profit pada saham yang sudah melanjutkan rally di atas 9.440.
  5. Diversifikasi Geografis

    • Pertimbangkan alokasi kecil (≤ 5 %) ke ADR/ETF regional (mis. iShares MSCI Asia ex Japan) untuk mengurangi eksposur Indonesia saja.

7. Outlook Makro 2026 – Bagaimana Kondisi Ekonomi Indonesia Mendukung (atau Menantang) Saham Konglomerasi?

Faktor Proyeksi 2026 Pengaruh Terhadap Saham Konglomerasi
Pertumbuhan GDP 5,2 % YoY (IMF) Membantu pendapatan konsumsi, penjualan ritel & layanan keuangan.
Inflasi 3,5 % (target BI) Menjaga daya beli, namun tekanan pada cost bahan baku logam.
Kurs Rupiah 15.500 IDR/USD (stabil) Mengurangi biaya impor (pakan, peralatan telekom) & meningkatkan profit margin export.
Kebijakan Fiskal Pengurangan defisit, insentif investasi infrastruktur Menguntungkan sektor telekomunikasi (tower, fiber) serta logam (pembangunan pabrik).
Suku Bunga BI 6,5 % (steady) Menurunkan tekanan pembiayaan bagi perbankan, namun tetap menarik bagi investor obligasi.
Ekspor Komoditas Nikel 12 % YoY, Timah 8 % YoY, Emas 5 % YoY Memperkuat pendapatan logam, terutama bagi perusahaan dengan integrasi hulu‑hilir.

Kesimpulan Makro: Ekonomi Indonesia diperkirakan melanjutkan pertumbuhan moderat dengan inflasi terkendali. Stabilitas nilai tukar dan kebijakan fiskal yang mendukung investasi infrastruktur memberi “tailwind” bagi banyak konglomerasi, terutama yang terlibat dalam jaringan telekomunikasi serta energi/logam.


8. Kesimpulan Utama

  1. Saham Konglomerasi Masih Menjanjikan – Valuasi wajar (PE ≈ 14,2×) + proyeksi EPS +8 % membuatnya layak di‑hold atau ditambah posisi, terutama bagi investor jangka menengah‑panjang.
  2. Seleksi Sektor Penting – Tele‑komunikasi, ritel, dan logam (emas/timah) menawarkan pertumbuhan EPS di atas rata‑rata pasar, sementara perbankan & konsumer masih lemah.
  3. Pemulihan Laba Belum Konklusif – Konfirmasi pada Q4‑2025 – Q1‑2026 diperlukan; investor sebaiknya menunggu data EPS kuartal keempat sebelum menambah eksposur secara agresif.
  4. Manajemen Risiko & Diversifikasi – Gunakan stop‑loss, trailing‑stop, serta alokasi ke cash/ obligasi untuk melindungi portofolio dari volatilitas global.
  5. Pantau Sentimen Institutional & Makro – Kenaikan kepemilikan institusional serta signifikansi kebijakan moneter global adalah indikator utama yang dapat mengubah arah pasar.

Dengan memperhatikan fundamental kuat, sentimen institusional, serta kondisi makro‑ekonomi yang relatif stabil, investor yang mengedepankan pendekatan “smart‑beta” pada saham konglomerasi dan sektor “high‑visibility” (tele‑kom, ritel, logam) dapat memanfaatkan peluang upside hingga 2026 sambil mengendalikan downside risk.

Selamat berinvestasi, dan tetap waspada pada perubahan data serta kebijakan yang dapat mempengaruhi lanskap pasar Indonesia pada tahun mendatang!