Danantara Tumpuk GOTO: Analisis Dampak Investasi Besar, Prospek Laba,

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 5 May 2026

1. Ringkasan Peristiwa

  • Pengakuan Rosan Roeslani (CEO Danantara): Perusahaan telah membeli saham GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) dan akan menambah kepemilikannya secara bertahap. Jumlah pasti tidak diungkap.

  • Keterangan Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad: Pemerintah (melalui DPR) juga telah mengakuisisi sebagian kecil saham GOTO, dengan tujuan menurunkan komisi driver ojek online dari 20 % menjadi 8 %.

  • Kinerja GOTO kuartal I‑2026:

    • Laba bersih pertama: Rp 258 miliar (30 % di atas estimasi BRI Danareksa).
    • Adjusted EBITDA: Rp 907 miliar (+35 % QoQ).
    • GoTo Financial (GTF) naik 12,7 % QoQ, portofolio pinjaman mencapai Rp 9,9 triliun.
    • Segmen On‑Demand Services (ODS) menurun karena faktor musiman.
  • Proyeksi BRI Danareksa Sekuritas:

    • Laba bersih 2026: Rp 858 miliar.
    • Laba bersih 2027: Rp 1,64 triliun.
    • Laba bersih 2028: Rp 2,2 triliun.
    • Target harga saham Rp 80 (vs. harga pasar ≈ Rp 50) → potensi +60 %.

2. Analisis Fundamental

2.1. Kinerja Keuangan (Q1‑2026)

Metode Nilai Keterangan
Laba Bersih Rp 258 miliar Lebih dari BRI Danareksa
(≈ Rp 198 miliar)
Adjusted EBITDA Rp 907 miliar +35 % QoQ, melampaui estimasi
sekitar Rp 700 miliar
Portofolio Pinjaman GTF Rp 9,9 triliun Naik 12,7 % QoQ,
menandakan penetrasi layanan keuangan yang kuat
GTV (ODS) Turun (musiman) Tidak mengurangi profitabilitas secara
signifikan karena margin ODS lebih rendah dibanding GTF

Interpretasi:

  • Profitabilitas GOTO kini lebih mengandalkan GoTo Financial (GTF), yang memberi margin tinggi dan pertumbuhan kredit yang impresif.

  • Penurunan ODS bersifat siklis; tidak mengancam fundamental karena pendapatan GTF sudah menutup defisit.

2.2. Proyeksi EBITDA & Laba Bersih (2026‑2028)

  • Adjusted EBITDA 2026: Rp 3,2‑3,4 triliun (guideline).
  • Adjusted EBITDA 2028 (proyeksi BRI): Rp 2,9 triliun hanya untuk GTF – CAGR 58 % 2026‑2028.
  • Kontribusi GTF pada valuasi SOTP ≈ 42 %, menandakan value driver utama.

2.3. Valuasi

Metode Asumsi Hasil
Multiples EBITDA EV/EBITDA = 12× (indeks teknologi Indonesia) EV
≈ Rp 40 triliun
Sum‑of‑the‑Parts (SOTP) GTF 42 % dari EV, ODS 58 % Target harga
≈ Rp 80 (BRI)
Current Price Rp 50 Implied upside ≈ 60 %

Catatan: 12× EV/EBITDA dianggap konservatif karena banyak fintech Asia melaporkan multiples 15‑20× pada tahap pertumbuhan tinggi. Jika EV/EBITDA naik menjadi 15×, target harga dapat menembus Rp 100.


3. Mengapa Danantara Ingin Memiliki Saham GOTO?

Faktor Penjelasan
Strategi Diversifikasi Danantara berfokus pada **teknologi,

fintech, dan infrastruktur digital. GOTO memberikan eksposur pada ekosistem on‑demand + layanan keuangan yang terintegrasi. | | Sinergi Potensial | Danantara memiliki unit usaha yang bergerak di logistik & pembayaran digital; kepemilikan GOTO dapat membuka kolaborasi pada layanan pembayaran, kredit mikro, serta data analytics. | | Signal Pemerintah | Sufmi Dasco menegaskan adanya kepemilikan saham pemerintah, yang berpotensi menurunkan biaya komisi driver—menambah profitabilitas ODS di masa depan. | | Valuasi Menarik** | Dengan target harga Rp 80, upside 60 % masih “terjangkau” untuk investor institusional yang mengincar return jangka menengah‑panjang. |


4. Risiko yang Perlu Diperhatikan

Risiko Dampak Potensial Mitigasi
Regulasi Komisi Ojek Penurunan komisi driver ke 8 % dapat
mengurangi margin ODS secara signifikan. Pemerintah mungkin

mengkompensasi lewat subsidi atau insentif pajak; GTF dapat menutup selisih margin. | | Kondisi Mikroekonomi | Inflasi tinggi & penurunan daya beli dapat menurunkan frekuensi transaksi GTV. | Fokus pada produk fintech berbiaya rendah (pinjaman mikro, pembayaran QR) yang tetap dibutuhkan. | | Persaingan Fintech | Pendatang baru (mis. Jago, Moota) atau ekspansi kompetitor lama (OVO, DANA) dapat mencuri market share. | GTF harus terus inovasi (produk kredit, SaaS B2B, AI credit scoring). | | Ketergantungan pada Ekosistem Gojek | Bila Gojek menghadapi masalah reputasi atau operasional, seluruh grup dapat terdampak. | Diversifikasi layanan (e‑commerce, fintech) mengurangi eksposur. | | Volatilitas Saham | Harga GOTO masih dipengaruhi sentimen pasar yang sensitif pada berita regulasi. | Beli secara bertahap (dollar‑cost‑averaging) dan menunggu konfirmasi earnings berikutnya. |


5. Investment Thesis (Pandangan Investasi)

  1. Fundamental Berubah Positif: GOTO kini mencatat laba bersih pertama dan EBITDA yang kuat, didorong oleh segmen keuangan yang cepat tumbuh.
  2. Valuasi Relatif Tinggi: Target harga Rp 80 (BRI) memberi upside ~60 % dibandingkan harga pasar saat ini. Multiples yang dipakai masih konservatif.
  3. Dukungan Pemerintah: Kepemilikan saham oleh pemerintah menurunkan risiko regulasi dan membuka peluang penyesuaian tarif komisi yang menguntungkan.
  4. Sinergi Danantara: Akuisisi oleh Danantara dapat memperkuat ekosistem digital Indonesia, memberi mereka kontrol lebih atas data konsumen, serta mengoptimalkan cross‑selling produk keuangan.
  5. Pertumbuhan GTF yang Eksponensial: CAGR 58 % (2026‑2028) pada EBITDA GTF menandakan penciptaan nilai yang sangat tinggi – inti dari valuasi SOTP.

Rekomendasi: Beli (Buy) dengan alokasi posisi inti pada harga rata‑rata di kisaran Rp 48‑52. Gunakan take‑profit pada Rp 78‑80 (target BRI) dan stop‑loss pada Rp 42 (≈‑15 % dari entry) untuk melindungi downside.


6. Outlook 2026‑2028

Tahun Laba Bersih (estimasi) EBITDA (estimasi) Faktor Kunci
2026 Rp 858 miliar Rp 3,3 triliun Penurunan ODS musiman,
pertumbuhan GTF tetap tinggi
2027 Rp 1,64 triliun Rp 4,2 triliun Peluncuran produk kredit
konsumer baru, partner bank pemerintah
2028 Rp 2,2 triliun Rp 5,0 triliun Skala ekonomi fintech,
penetrasi layanan keuangan di daerah pedesaan

Jika ekosistem kebijakan mendukung (penurunan komisi, insentif digital), GOTO dapat mengubah struktur margin ODS menjadi lebih seimbang dengan profit centre GTF, memperkuat pertumbuhan profitabilitas secara berkelanjutan.


7. Kesimpulan

  • Danantara membeli saham GOTO pada momentum penting: perusahaan telah mencatat laba bersih pertama, tunjukkan profitabilitas yang kuat lewat GoTo Financial, dan memiliki prospek pertumbuhan yang menggiurkan.
  • Target harga Rp 80 mengimplikasikan potensi upside 60 % dari level pasar saat ini, yang ditopang oleh fundamental yang membaik, dukungan pemerintah, serta sinergi yang dapat dihasilkan oleh Danantara.
  • Risiko regulasi dan kompetisi tetap ada, namun dapat dikelola melalui diversifikasi layanan keuangan dan inovasi produk.

Secara keseluruhan, saham GOTO kini berada pada zona buy dengan profil risiko‑reward yang menarik untuk investor institusional maupun ritel yang memiliki horizon investasi menengah‑panjang (2‑4 tahun).


Catatan Penulis: Analisis ini bersifat informatif dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi perdagangan yang terpersonalisasi. Selalu lakukan due‑diligence tambahan sebelum mengambil keputusan investasi.