Alasan Lo Kheng Hong Tak Pernah Beli Emas

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 28 October 2025

Judul:
“Mengapa Lo Kheng Hong Menolak Emas: Analisis Kritis tentang Pilihan Saham sebagai Instrumen Investasi Utama di Tengah Alternatif Lain”


Pendahuluan

Lo Kheng Hong—seorang investor senior yang dikenal aktif mengulas strategi pasar modal di media sosial—baru‑baru ini menegaskan bahwa saham adalah “pilihan terbaik” bagi dirinya, sekaligus menjelaskan mengapa emas, obligasi, dan kripto tidak masuk dalam portofolio investasinya. Pernyataan ini menarik untuk dikaji lebih dalam, karena ia tidak hanya mengungkap preferensi pribadi, melainkan mencerminkan persepsi yang masih cukup luas di kalangan investor Indonesia: keengganan terhadap aset‑aset “konvensional” yang dianggap kurang likuid, kurang menguntungkan, atau sulit disimpan.

Artikel di atas menggarisbawahi tiga poin utama Lo Kheng Hong:

  1. Saham memberikan return yang paling kompetitif dan mudah diakses.
  2. Obligasi (baik pemerintah maupun korporasi) menawarkan imbal hasil yang relatif rendah.
  3. Emas dan kripto dianggap kurang praktis—emas karena penyimpanan, kripto karena tidak memiliki “underlying”.

Berikut ini kami menyajikan tanggapan panjang yang meninjau masing‑masing argumen, menimbang kelebihan‑kelemahan tiap kelas aset, serta menyoroti implikasi bagi investor ritel Indonesia.


1. Saham sebagai “Pilihan Terbaik”

1.1 Alasan Lo Kheng Hong Menyukai Saham

  • Likuiditas Tinggi: Transaksi saham dapat dilakukan dalam hitungan detik melalui aplikasi broker, dengan biaya transaksi yang relatif rendah dibandingkan penjualan fisik emas atau obligasi.
  • Potensi Return Tinggi: Historis pasar ekuitas Indonesia (IDX) menunjukkan rata‑rata return tahunan lebih tinggi daripada suku bunga deposito atau obligasi pemerintah.
  • Akses Informasi: Laporan keuangan, analisis fundamental/teknikal, serta berita korporasi dapat diakses secara gratis atau berbayar, memberi investor kemampuan untuk membuat keputusan berbasis data.
  • Dividen & Capital Gain: Selain pendapatan dividend, investor bisa memperoleh keuntungan kapital (capital gain) ketika harga saham naik.

1.2 Kekuatan Saham di Indonesia

Kriteria Keterangan
Likuiditas Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat rata‑rata volume perdagangan harian > 20 miliar saham.
Keragaman Sektor Terdapat lebih dari 700 emiten di sektor keuangan, konsumer, infrastruktur, energi, dan teknologi.
Regulasi OJK dan BEI menerapkan aturan transparansi dan perlindungan investor (mis. Disclosure, Insider Trading).
Akses Ritel Platform digital (e.g., Ajaib, Stockbit, Bibit) mempermudah pembelian fractional shares.

1.3 Risiko yang Perlu Diwaspadai

  • Volatilitas: Saham berisiko tinggi, terutama pada perusahaan kecil (small‑cap) atau sektor yang terpengaruh kebijakan makro (mis. energi, properti).
  • Sentimen Pasar: Faktor eksternal seperti gejolak politik, nilai tukar, atau kebijakan moneter dapat memicu sell‑off massal.
  • Risiko Perusahaan: Kinerja operasional, manajemen, atau masalah hukum dapat menurunkan nilai saham secara drastis.

Catatan: Memilih saham sebagai “pilihan terbaik” tidak berarti menolak diversifikasi. Bagi investor yang mengutamakan pertumbuhan jangka panjang, saham memang menarik, tetapi tetap perlu membatasi porsi risiko dengan menambahkan aset yang stabil.


2. Obligasi: Mengapa Return Dikatakan “Kecil”?

2.1 Karakteristik Obligasi di Indonesia

  • Surat Utang Negara (SUN): Yield sekitar 6‑7 % per tahun (tergantung tenor dan kondisi pasar).
  • Obligasi Korporasi: Yield biasanya 8‑12 % per tahun, tergantung rating kredit dan likuiditas.

2.2 Nilai Tambah Obligasi

Aspek Kelebihan Obligasi
Stabilitas Pendapatan Coupon (bunga) dibayarkan periodik, memberikan cash flow reguler.
Hierarki Prioritas Dalam likuidasi, pemegang obligasi memiliki klaim lebih tinggi daripada pemegang saham.
Diversifikasi Memperkenalkan elemen fixed‑income yang mengurangi fluktuasi portofolio.
Pencocokan Risiko Cocok untuk investor konservatif atau yang mendekati masa pensiun.

2.3 Kenapa Lo Kheng Hong Menilai Return Obligasi “Kurang Menarik”?

  • Komparatif Return: Dibandingkan dengan ekspektasi return saham (10‑15 % atau lebih), yield obligasi terasa “kecil”.
  • Inflasi: Jika inflasi berada di kisaran 4‑6 %, real return obligasi menjadi tipis.
  • Likuiditas: Obligasi pemerintah relatif likuid, tetapi obligasi korporasi (terutama yang tidak tercatat di BEI) dapat sulit dijual tanpa kerugian.

2.4 Perspektif Praktis

Bagi investor yang menaruh porsi signifikan pada saham, alokasi 10‑20 % ke obligasi dapat secara signifikan menurunkan volatilitas portofolio tanpa mengorbankan return jangka panjang secara dratis.


3. Emas: Kendala Penyimpanan atau Strategi Lindung Nilai?

3.1 Alasan Lo Kheng Hong Menolak Emas

“Karena susah nyimpennya.”

  • Fisikitas: Emas batangan atau koin memerlukan tempat penyimpanan aman (brankas, safe deposit box), menambah biaya.
  • Biaya Penyimpanan: Penyimpanan di safe deposit box biasanya berkisar Rp 100.000‑200.000 per tahun per kotak.
  • Likuiditas: Penjualan kembali membutuhkan waktu dan verifikasi (kualitas, berat).

3.2 Mengapa Emas Masih Populer di Indonesia?

Faktor Penjelasan
Lindung Nilai (Hedging) Terhadap Inflasi Emas cenderung mempertahankan nilai ketika inflasi tinggi atau nilai tukar melemah.
Kepercayaan Budaya Generasi tua di Indonesia tradisionalnya menyimpan emas sebagai ‘aset keluarga’.
Likuiditas di Pasar Spot Bagi mereka yang menjual ke toko emas atau melalui platform digital (mis. Pegadaian), proses cukup cepat.
Diversifikasi Aset Emas memiliki korelasi rendah dengan saham, memberi efek negatif volatilitas portofolio.

3.3 Solusi Modern Mengatasi Masalah Penyimpanan

  • Gold ETF (Exchange Traded Fund): Misalnya, ETF Emas yang diperdagangkan di BEI (mis. DGTL, XAU). Dengan ETF, investor tidak perlu menyimpan emas fisik; kepemilikan tercatat secara elektronik.
  • Digital Gold Platforms: Aplikasi seperti Ajaib, Bibit, atau Indodax menyediakan layanan “Digital Gold” dengan minimum transaksi terjangkau.
  • Custody Services: Penyimpanan institusional melalui bank kustodian dengan asuransi penuh.

Kesimpulan: Kendala fisik memang ada, tetapi inovasi finansial memungkinkan emas tetap menjadi instrumen diversifikasi yang praktis.


4. Kripto: “Tidak Ada Underlying” – Argumen yang Perlu Diperjelas

4.1 Pandangan Lo Kheng Hong

“Tidak ada underlying‑nya; jadi tidak ada nilai intrinsik.”

Ia menekankan bahwa, berbeda dengan saham yang mencerminkan kepemilikan perusahaan, kripto tidak menghasilkan pendapatan atau cash flow.

4 - 1. Sisi Kritis

  • Tidak Ada Fundamental Ekonomi: Nilai kripto dipengaruhi oleh permintaan‑penawaran pasar, adopsi teknologi, dan spekulasi.
  • Volatilitas Ekstrem: Bitcoin dan altcoin dapat bergerak ±10‑30 % dalam satu hari.
  • Regulasi yang Belum Stabil: Pemerintah Indonesia masih mengembangkan kerangka regulasi, menambah ketidakpastian.

4‑2. Potensi Kripto Sebagai Aset Alternatif

Aspek Pro Kontra
Diversifikasi Korelasi rendah dengan pasar tradisional (saham, obligasi). Korelasi dapat berubah pada krisis likuiditas.
Inovasi Teknologi Blockchain dapat menciptakan model bisnis baru. Masalah skalabilitas, keamanan, dan adopsi massal.
Akses Global Transfer lintas batas cepat dan biaya rendah. Risiko keamanan (hacking, loss of private key).

4‑3. Pendekatan yang Masuk Akal

Bagi investor yang tidak nyaman dengan risiko tinggi, alokasi maksimum 5‑10 % ke kripto (seperti Bitcoin atau Ethereum) dapat menambah eksposur pada teknologi baru tanpa mengorbankan stabilitas portofolio.


5. Saran Praktis untuk Investor Indonesia

  1. Terapkan Prinsip Asset Allocation yang Berimbang

    • 60‑70 % saham (diversifikasi antar sektor).
    • 10‑20 % obligasi (SUN atau obligasi korporasi ber‑rating).
    • 5‑10 % emas (melalui ETF atau digital gold).
    • 0‑5 % kripto (jika bersedia menanggung volatilitas).
  2. Gunakan Produk Investasi Digital

    • Reksa dana saham untuk eksposur ke pasar tanpa harus memilih saham satu per satu.
    • ETF obligasi atau ETF emas untuk likuiditas tinggi dan biaya rendah.
  3. Kelola Risiko Lewat Stop‑Loss & Take‑Profit

    • Tetapkan batas kerugian maksimum (mis. 10‑15 % per saham).
    • Ambil profit sebagian saat return mencapai target (mis. 30‑40 %).
  4. Pantau Faktor Makro‑Ekonomi

    • Inflasi, suku bunga BI, nilai tukar Rupiah, dan kebijakan fiskal mempengaruhi semua kelas aset.
  5. Edukasi Diri Secara Berkelanjutan

    • Ikuti webinar OJK, BAPPEBTI, atau platform edukasi keuangan (Investopedia, Jagoan Fund).
    • Analisis laporan keuangan, prospek industri, serta tren teknologi (mis. fintech, blockchain).

6. Kesimpulan

Lo Kheng Hong menegaskan kepercayaannya pada saham sebagai kendaraan utama dalam membangun kekayaan, sambil menolak emas, obligasi, dan kripto karena alasan praktis (penyimpanan, return rendah, tidak ada underlying).

Namun, analisis komprehensif menunjukkan bahwa:

  • Saham memang menawarkan potensi return tertinggi, namun disertai volatilitas yang signifikan.
  • Obligasi memberikan stabilitas pendapatan dan melindungi modal pada masa pasar turun, walaupun yieldnya lebih rendah.
  • Emas tetap berperan sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan devaluasi mata uang, terutama bila diakses lewat produk digital yang menghilangkan kendala penyimpanan fisik.
  • Kripto masih berada dalam fase eksperimen; keberadaannya sebagai aset “tanpa underlying” bukan berarti tidak bernilai, melainkan memerlukan pendekatan konservatif.

Oleh karena itu, strategi investasi yang bijak bagi kebanyakan investor Indonesia sebaiknya tidak mengandalkan satu kelas aset saja. Diversifikasi, alokasi proporsional, serta penggunaan instrumen modern (ETF, digital gold, reksa dana) dapat memberikan keseimbangan antara pertumbuhan, likuiditas, dan perlindungan nilai.

Akhir kata, keputusan akhir tetap berada pada profil risiko, tujuan keuangan, dan horizon waktu masing‑masing. Jika saham memang menjadi “pilihan terbaik” secara pribadi, tetaplah terbuka pada nilai tambah yang dapat diberikan oleh emas, obligasi, atau kripto—bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai penunjang agar portofolio Anda lebih tangguh di segala kondisi pasar.

Tags Terkait