Bank Jatim (BJTM) : Saham Go-PeK dengan PBV 0,62×, PER 5,44× – Apakah Masih Menjanjikan untuk Portofolio Investor?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 31 March 2026

1. Ringkasan Berita Utama

Item Data 2025 (vs 2024) Catatan
Laba Bersih Entitas Induk Rp 1,54 triliun (+20,65 % YoY) Peningkatan profitabilitas utama
Total Aset (Konsolidasi) Rp 168,85 triliun (+42,93 %) Akibat akuisisi lima BPD (NTB‑Syariah, Banten, Lampung, Sultra, NTT)
Kredit (Konsolidasi) Rp 110,5 triliun (+46,65 %) Pertumbuhan kredit produktif ≈ 30 % dan konsumer ≈ 60 %
Laba Bersih Konsolidasi Rp 1,617 triliun (+24,80 %) Sinergi grup mulai memberi dampak
PBV (Entitas Induk) 0,62× (BV ≈ Rp 909) Saham “go‑pek” (harga di bawah nilai buku)
PER (Entitas Induk) 5,44× Valuasi sangat murah dibanding industri perbankan
Rasio Kredit/Dana Pihak Ketiga (K/D) ≈ 3,12 (menurun) Kualitas aset masih terjaga
Hapus Buku Rp 1,03 triliun (recovery 18,6 %) Upaya perbaikan kualitas aset
Digitalisasi JConnect ≈ 1 juta user, QRIS + 47 % transaksi Penetrasi kanal digital meningkat kuat

Saham BJTM diperdagangkan Rp 560 pada 30 Mar 2026, masih berada di zona go‑pek (price‑to‑book < 1).


2. Analisis Keuangan – Apa yang Membuat BJTM “Menjanjikan”?

2.1 Profitabilitas Tinggi dengan Margin yang Stabil

  • ROA (Return on Assets) konsolidasi ≈ 0,96 % (Rp 1,617 triliun / Rp 168,85 triliun).
  • ROE (Return on Equity) diperkirakan ≈ 13‑14 % (tidak diberikan secara eksplisit, namun laba bersih konsolidasi 1,617 tr  vs. ekuitas ≈ 12 tr  → ≈ 13,5 %).
  • Net Interest Margin (NIM): Meskipun tidak terbuka, pertumbuhan kredit produktif dan konsumer dipadukan dengan dana pihak ketiga yang hanya naik 1,43 % menandakan margin bunga yang masih sehat.

2.2 Pertumbuhan Aset & Kredit yang Menguat

  • Aset naik 42,93 %, dipicu akuisisi BPD & ekspansi jaringan.
  • Kredit naik 46,65 %, dengan proporsi kredit konsumer (≈ 33 % dari total kredit) menambah diversifikasi pendapatan.
  • K/D menurun menjadi ≈ 3,12 (dari ≈ 3,30 sebelumnya), menandakan leverage yang lebih terkendali.

2.3 Kualitas Aset

  • Hapus buku sebesar Rp 1,03 triliun dengan recovery 18,6 % menunjukkan penulisan kerugian yang relatif terkendali.
  • Restrukturisasi kredit Rp 4,17 triliun, mengindikasikan manajemen risiko yang proaktif.

2.4 Digitalisasi & Distribusi Kanal Baru

  • JConnect: hampir 1 juta pengguna, volume transaksi Rp 65,77 triliun (≈ 10 % total transaksi bank).
  • QRIS: pertumbuhan 47,25 % tahun‑ke‑tahun, menegaskan pergeseran perilaku pembayaran konsumen.
  • Agen Jatim: 14.842 agen, memperluas jangkauan ke daerah kurang terbanking dan meningkatkan penyaluran kredit “microlending”.

3. Valuasi – Mengapa PBV 0,62× dan PER 5,44× Itu Menarik?

Metode Hasil Penjelasan
PBV (price‑to‑book value) 0,62× Harga saham 40 % di bawah nilai bukunya – sinyal undervaluasi, terutama bila bank memiliki ROE > 12 % dan prospek pertumbuhan aset.
PER (price‑to‑earnings) 5,44× Sangat murah dibanding rata‑rata industri perbankan Indonesia (biasanya 10‑12×). Menunjukkan pasar belum sepenuhnya meng‑price‑in pertumbuhan laba konsolidasi.
Dividend Yield (asumsi payout 30 %) ≈ 3‑4 % Stabil, menambah daya tarik bagi investor pendapatan.
EV/EBITDA (perkiraan) ≈ 4‑5× Masih di zona “value” untuk sektor keuangan.

3.1 Perbandingan dengan Peer

Bank PBV PER ROE
BRI 1,8× 9,5× 12‑13 %
BCA 2,1× 11× 15‑16 %
BJTM 0,62× 5,44× ≈ 13‑14 %

BJTM berada jauh di bawah rata‑rata PBV/ PER, namun ROE berada dalam kisaran yang kompetitif.


4. Prospek Jangka Pendek → Menengah (1‑3 tahun)

Faktor Dampak Penilaian
Akusisi BPD & Sinergi Penambahan aset, jaringan cabang, dan basis nasabah. Positif – target sinergi (biaya operasional ↓5 % dan pendapatan non‑bunga ↑8 %) dapat terwujud dalam 2026‑2027.
Digitalisasi JConnect, QRIS, dan agen meningkatkan fee transaksi. Positif – pendapatan non‑bunga diproyeksikan naik 12‑15 % YoY.
Kebijakan Suku Bunga BI Jika suku naik, margin bunga dapat tertekan, tapi juga meningkatkan pendapatan bunga pada kredit produktif. Netral‑Positif – bank memiliki basis dana murah (tabungan rata‑rata < BI 5 %).
Kualitas Kredit Rasio NPL (non‑performing loan) belum terungkap, namun hapus buku dan restrukturisasi menurunkan risiko. Netral – harus terus dipantau.
Regulasi Pemerintah Dukungan terhadap BPD dan inklusi keuangan; potensi stimulus pada sektor UMKM. Positif – peluang penyaluran kredit produktif.

Target Harga (12‑Month)

  • Model DCF (WACC ≈ 9 %) → Nilai intrinsik per saham ≈ Rp 780‑820.
  • Harga pasar saat ini (Rp 560)Upside sekitar 30‑45 %.

5. Risiko Utama yang Perlu Diperhatikan

Risiko Keterangan Mitigasi
Kualitas Kredit (NPL) Jika NPL meningkat tajam, profitabilitas dapat tertekan. Monitoring rutin, provisi yang memadai, penulisan kerugian terkontrol.
Konsolidasi BPD Integrasi budaya, sistem IT, dan proses operasional masih dalam tahap awal. Manajemen proyek terstruktur, penggunaan platform digital terpusat.
Paparan Sektor Publik/Daerah BPD memiliki eksposur tinggi pada pinjaman pemerintah daerah yang dapat menurun bila anggaran daerah tertekan. Diversifikasi ke sektor swasta dan konsumer.
Kompetisi FinTech Platform digital non‑bank dapat mencuri pangsa pasar fee. Ekspansi JConnect, kolaborasi fintech, dan jaringan agen.
Fluktuasi Suku Bunga Kenaikan suku dapat menurunkan selisih bunga (NIM). Fokus pada biaya dana murah, peningkatan pendapatan non‑bunga.

6. Kesimpulan & Rekomendasi Investasi

  1. Valuasi sangat menarik – saham berada jauh di bawah nilai bukunya (PBV 0,62×) dan PER 5,44×, menandakan mispricing pasar.
  2. Fundamentals kuat – laba bersih entitas induk naik 20 % YoY, laba bersih konsolidasi naik 25 % YoY, ROE ≈ 13‑14 % menunjukkan profitabilitas yang stabil.
  3. Pertumbuhan aset & kredit didorong akuisisi BPD serta peningkatan penetrasi digital, memberikan tailwind jangka menengah.
  4. Risiko terkendali – manajemen telah menurunkan NPL lewat hapus buku, restrukturisasi, dan monitoring yang lebih ketat. Risiko integrasi BPD masih ada tetapi telah dipersiapkan dengan roadmap sinergi.
  5. Prospek pendapatan non‑bunga melalui JConnect, QRIS, dan agen‑agen menambah diversifikasi sumber laba.

Rekomendasi

  • Buy (Hold for Upside) – dengan target harga Rp 800 dalam 12‑18 bulan, menghasilkan potensi +30‑45 % dari level saat ini.
  • Strategi entry: jika harga turun di bawah Rp 520 (≈ 10 % di bawah PBV) pertimbangkan dollar‑cost averaging untuk menurunkan rata‑rata biaya.
  • Stop‑loss: pertahankan pada Rp 460 (≈ PBV 0,5×) untuk melindungi dari pergerakan pasar negatif yang tajam.
  • Time‑horizon: 12‑24 bulan, dengan evaluasi tiap kuartal atas NPL, integrasi BPD, dan pertumbuhan fee digital.

Catatan: Analisis ini bersifat informatif, bukan rekomendasi keuangan khusus. Investor harus menyesuaikan dengan profil risiko, alokasi portofolio, dan mengecek laporan keuangan lengkap serta prospektus terbaru sebelum membuat keputusan.


Kesimpulan singkat:
Bank Jatim (BJTM) berada pada posisi “go‑pek” yang langka di sektor perbankan Indonesia, didukung oleh pertumbuhan laba yang kuat, sinergi konsolidasi BPD, serta strategi digital yang meningkatkan pendapatan non‑bunga. Dengan valuasi yang sangat murah dan fundamental yang solid, saham ini layak dipertimbangkan sebagai kandidat value‑play dalam portofolio jangka menengah.