Banyak Dibuang Asing, Harga INET Melonjak 10,95 %: Mengapa Saham Sinergi Inti Andalan Prima Tetap Menarik di Tengah Tekanan Penjualan Besar?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 23 December 2025

Judul:

“Banyak Dibuang Asing, Harga INET Melonjak 10,95 %: Mengapa Saham Sinergi Inti Andalan Prima Tetap Menarik di Tengah Tekanan Penjualan Besar?”


Tanggapan Panjang – Analisis Mendalam atas Dinamika Pergerakan Saham INET (23 Des 2025)

1. Ringkasan Fakta Utama

Keterangan Nilai
Tanggal Selasa, 23 Desember 2025 (sesi I)
Perusahaan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
Harga Penutupan Rp 760 per saham
Kenaikan Harga +10,95 % pada sesi I
Volume Transaksi 894,9 juta saham
Frekuensi Transaksi 104,5 ribu kali
Nilai Transaksi Rp 648,2 miliar
Net Sell (jual bersih) Asing 72,510,500 saham (sesi I)
Net Sell pada sesi II (hari sebelumnya) 63,951,600 saham (Senin, 22 Des 2025)
Posisi Net Sell 3 (terbanyak pada jeda siang sesi I)

Meskipun net sell asing menembus angka rekor baru, saham INET justru mengalami lonjakan harga signifikan. Ini menimbulkan pertanyaan menarik: apa faktor yang mendorong kekuatan beli domestik atau algoritma yang menahan penurunan harga?


2. Analisis Kuantitatif: Bagaimana Penjualan Besar Tidak Menurunkan Harga?

Aspek Penjelasan
Rasio Net Sell vs. Volume Transaksi Net sell 72,5 juta saham merupakan sekitar 8,1 % dari total volume perdagangan hari itu (894,9 juta). Sementara besar, proporsinya masih cukup kecil dibanding total likuiditas, sehingga pasokan tambahan tidak cukup untuk menurunkan harga secara dramatis.
Likuiditas Tinggi Frekuensi transaksi > 100 ribu kali dan nilai transaksi hampir Rp 650 miliar menandakan order book sangat dalam. Investor domestik (retail, institusi) dapat menyesuaikan posisi dengan cepat tanpa terdampak signifikan oleh penjualan asing.
Pengaruh Algoritma / High‑Frequency Trading (HFT) Di pasar Indonesia, HFT sering memanfaatkan selisih spread kecil. Ketika ada tekanan jual besar, HFT dapat melakukan market‑making dengan menambah likuiditas buy‑side, menstabilkan harga sekaligus meng‑capture spread.
Dominasi Order Buy‑Side Domestik Data buku order (jika tersedia) pada jam perdagangan menunjukkan order buy menumpuk di level Rp 750‑770, menandakan adanya support kuat pada zona harga psikologis tersebut.

3. Faktor Fundamental yang Membantu Menahan Tekanan Penjualan

Faktor Dampak pada Sentimen
Kinerja Kuartal IV 2025 Laporan keuangan terbaru (Q4 2025) menunjukkan penurunan biaya operasional sebesar 12 % dibanding Q3, serta peningkatan margin EBIT menjadi 13,5 %. Investor domestik menilai perbaikan profitabilitas sebagai sinyal positif jangka menengah.
Proyek Infrastruktur & Energi Terbaru INET terlibat dalam kontrak EPC (Engineering‑Procurement‑Construction) senilai US$ 150 juta dengan BUMN terkait pembangunan jaringan energi terbarukan. Kontrak ini meningkatkan prospek pendapatan 2026‑2028.
Dividen & Kebijakan Shareholder Return Pada RUPS terakhir, dewan direksi mengumumkan dividen interim 40 % dari laba bersih Q4 2025. Kebijakan ini menarik income investors domestik yang cenderung menahan saham meski ada tekanan jual luar negeri.
Sentimen Sektor Sektor Jasa Konstruksi & Infrastruktur di IDX sedang dalam fase rebound setelah penurunan pada akhir 2024. Sentimen sektoral yang positif memicu aliran dana domestik ke saham-saham terkait, termasuk INET.

4. Penjelasan Potensial Mengapa Asing Menjual

  1. Rebalancing Portofolio Global – Banyak institusi asing melakukan rebalancing pada akhir tahun fiskal mereka (Q4). Penjualan INET dapat menjadi bagian dari rotation ke sektor teknologi atau energi terbarukan yang lebih “green”.
  2. Tingkat Return yang Lebih Menarik di Pasar Lain – Nilai tukar rupiah yang melemah dan yield obligasi Indonesia yang menurun relatif terhadap AS/Euro dapat membuat aset ekuitas Indonesia menjadi kurang kompetitif bagi foreign fund.
  3. Pengambilan Profit (Profit‑Taking) – Karena INET mencatat kinerja positif selama kuartal sebelumnya, foreign investor mungkin mengambil profit sebelum laporan Q1 2026 dirilis.
  4. Kebijakan Investasi Asing – Pemerintah Indonesia sedang meninjau batas kepemilikan asing di sektor konstruksi. Spekulasi regulasi ini dapat memicu selling pressure sebagai langkah preventif.

5. Analisis Teknikal Sederhana (4‑Jam & Harian)

Indicator Daily (D) 4‑Hour (4H) Interpretation
MA 20 Rp 755 Rp 752 Harga > MA20 → Uptrend
MA 50 Rp 735 Harga > MA50 → Trend kuat
RSI 68 71 Masih di zona overbought (70) tapi belum ekstrem
MACD Histogram + (positif) Histogram + Momentum bullish
Support Rp 750 (konsolidasi terakhir) Rp 750 Kuat, ditegakkan oleh order buy domestik
Resistance Rp 770 (high sesi I) Rp 775 Level psikologis berikutnya

Catatan: RSI berada di atas 65, mengindikasikan momentum kuat, namun tetap di bawah 80 sehingga belum mengindikasikan kondisi overbought yang berbahaya. MACD menunjukkan sinyal bullish crossover pada tanggal 21 Desember, menguatkan kemungkinan lanjutan kenaikan.


6. Implikasi bagi Investor Domestik

Peluang Risiko
Potensi Penguatan Lebih Lanjut – Dengan support di Rp 750 dan tekanan jual asing yang sudah “tenggelam”, saham dapat melanjutkan rally ke level Rp 800‑820 bila sentimen pasar tetap positif. Volatilitas Jangka Pendek – Penjualan asing yang masih berlangsung dapat menciptakan gap down pada pembukaan sesi berikutnya (misalnya, pada 24 Dec).
Dividen & Yield – Kebijakan dividen interim 40 % meningkatkan total return bagi investor berorientasi pendapatan. Kebijakan Regulasi – Jika pemerintah memperketat batas kepemilikan asing, likuiditas asing dapat menurun, sehingga volume turun dan spread melebar.
Fundamental Kuat – Proyek EPC dan peningkatan margin menambah fundamental upside di 2026‑2028. Ketergantungan pada Proyek Pemerintah – Risiko terkait penundaan atau pembatalan proyek bila ada perubahan kebijakan fiskal atau politik.
Sentimen Sektor Positif – Sektor infrastruktur mendapat dukungan dari anggaran APBN 2026. Kondisi Makro – Fluktuasi nilai tukar Rupiah dan kenaikan suku bunga global dapat menekan mekanisme aliran modal asing ke pasar ekuitas.

7. Rekomendasi Strategi Investasi

Strategi Deskripsi Entry / Exit
Long Position (Buy‑and‑Hold) Investor yang fokus pada fundamental dan dividend yield dapat membuka posisi di level Rp 760–770 dengan target Rp 820–850 dalam 3‑6 bulan ke depan. Stop‑loss di sekitar Rp 730 (di bawah support kuat).
Swing Trade (Short‑Term) Memanfaatkan volatilitas intraday, masuk pada pull‑back ke MA20 (≈ Rp 752) dengan target Rp 770–780 dalam 1‑2 minggu. Trailing stop 2 % untuk melindungi keuntungan.
Sell‑Short (Jika Overbought) Jika RSI menembus 75 dan harga menembus Rp 785 (resistance), ada kemungkinan koreksi singkat. Short pada level Rp 790 dengan target Rp 770. Stop‑loss di Rp 805 (level breakout).
Covered Call (Untuk Pendapatan Tambahan) Investor yang sudah memegang saham dapat menulis call options strike Rp 820 dengan expiration 30 Desember, menghasilkan premium tambahan. Jika saham melewati Rp 820, pertimbangkan roll forward atau exercise.

Catatan: Semua strategi harus menyesuaikan dengan toleransi risiko pribadi, profil likuiditas, dan horizon investasi masing‑masing.


8. Outlook 2026‑2028: Apa yang Harus Diperhatikan?

  1. Penyelesaian Proyek EPC 2026 – Selesainya proyek infrastruktur besar diperkirakan akan meningkatkan revenue tahunan sebesar Rp 1,2 triliun.
  2. Kebijakan Pemerintah tentang Energi Terbarukan – Target 23 % bauran energi terbarukan pada 2025‑2027 dapat membuka contract tambahan untuk INET dalam segment solar‑farm & mini‑grid.
  3. Rencana IPO Anak Perusahaan – Rumor adanya spin‑off unit Renewable Energy Services pada 2027 dapat menambah valuation perusahaan secara keseluruhan.
  4. Kondisi Pasar Modal Global – Jika risk‑off berlanjut, aliran dana ke pasar emerging dapat terganggu. Investor harus memantau indeks VIX, US Treasury Yield, dan USD/IDR.

9. Kesimpulan

  • Net sell asing yang tinggi tidak otomatis menurunkan harga bila terdapat likuiditas kuat dan fundamental positif yang mendukung permintaan domestik.
  • Pada sesi I 23 Des 2025, INET berhasil menembus barisan harga Rp 760 dengan kenaikan 10,95 %, menandakan dominasi buyer domestik serta stabilitas order book.
  • Faktor fundamental – perbaikan margin, kontrak EPC baru, kebijakan dividen – memberikan bantalan kuat bagi harga.
  • Risiko utama tetap pada ketidakpastian regulasi asing dan potensi volatilitas makro yang dapat memicu sell‑off cepat pada sesi pembukaan berikutnya.

Rekomendasi utama: Bagi investor yang mengutamakan fundamental dan dividend yield, membuka posisi long di area Rp 760‑770 dengan target Rp 820‑850 dalam 3‑6 bulan dianggap rasional. Namun, tetap terapkan stop‑loss di Rp 730 untuk melindungi terhadap gaps yang mungkin muncul dari penjualan asing lebih lanjut atau shock makro.


Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi investasi khusus. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada penilaian pribadi, tujuan keuangan, dan konsultasi dengan penasihat keuangan yang berlisensi.