Full Call Auction (FCA) di BEI: Langkah Reformasi Pasar Modal Indonesia
Tanggapan Panjang
1. Latar Belakang dan Signifikansi FCA
Full Call Auction (FCA) merupakan mekanisme perdagangan berkala yang mengumpulkan semua order beli‑jual pada suatu saham (biasanya yang berada di papan pemantauan khusus) selama jendela waktu tertentu, lalu mengeksekusinya secara simultan pada satu harga penyeimbang. Mekanisme ini sudah diterapkan di sejumlah bursa internasional (misalnya NYSE, LSE) untuk meningkatkan kualitas penentuan harga, mengurangi volatilitas intraday, serta memberi fasilitas likuiditas yang lebih adil bagi semua pelaku pasar.
Di Indonesia, FCA di BEI masih berada dalam fase uji coba. Pengumuman terbaru dari Pj. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa proses evaluasi diperkirakan selesai pada kuartal II‑2026. Ini menandai titik penting dalam agenda reformasi pasar modal yang telah lama dicanangkan: menumbuhkan market integrity (integritas pasar), meningkatkan transparansi, serta menyederhanakan mekanisme perdagangan.
2. Potensi Dampak Positif
| Aspek | Manfaat FCA | Penjelasan |
|---|---|---|
| Transparansi Harga | Penentuan harga yang berbasis pada titik | |
| keseimbangan permintaan‑penawaran | Semua order terakumulasi, sehingga | |
| tidak ada “price‑gaming” pada menit‑menit terakhir sebelum penutupan. | ||
| Pengurangan Volatilitas | Eksekusi sekaligus mengurangi fluktuasi | |
| ekstrim | Karena order dieksekusi pada satu harga, bukan terpisah‑pisah | |
| sepanjang sesi. | ||
| Peningkatan Likuiditas | Menarik investor institusional yang | |
| menghindari volatilitas tinggi | Institusi dapat mengirimkan order besar | |
| tanpa takut menggerakkan pasar secara signifikan. | ||
| Keadilan Bagi Semua Pelaku | Level playing field antara investor | |
| ritel dan institusi | Semua order dipertimbangkan secara simultan, bukan | |
| “first‑come‑first‑served”. | ||
| Efisiensi Operasional | Penyederhanaan proses matching | Sistem |
| dapat memproses satu batch order daripada ribuan transaksi terpisah. |
3. Tantangan yang Perlu Diperhatikan
-
Kesiapan Infrastruktur Teknologi
- FCA menuntut sistem matching engine yang mampu mengumpulkan, menyortir, dan menyeimbangkan jutaan order dalam hitungan milidetik. BEI harus memastikan kestabilan server, redundansi, serta keamanan siber yang memadai.
- Stress testing harus dilakukan secara ekstensif, termasuk skenario “flash crash” dan “order‑book stuffing”.
-
Perubahan Perilaku Market Maker dan Liquidity Provider
- Di pasar tradisional, market maker berperan aktif dalam menyediakan likuiditas secara kontinu. FCA mengubah pola ini menjadi batch‑liquidity.
- Diperlukan insentif atau aturan baru untuk memastikan market maker tetap termotivasi berpartisipasi dalam auction, misalnya melalui kompensasi liquidity provision atau pengurangan biaya transaksi.
-
Komunikasi dan Edukasi kepada Peserta Pasar
- Investor ritel belum terbiasa dengan konsep order yang “tertunda” hingga penutupan auction.
- BEI harus meluncurkan kampanye edukasi (webinar, modul e‑learning, simulasi) agar peserta memahami cara mengajukan limit order, market‑on‑close (MOC), dan stop‑loss dalam konteks FCA.
-
Penyesuaian Aturan Listing dan Kriteria Papan Pemantauan Khusus
- Jeffrey Hendrik menyebutkan kemungkinan peninjauan kembali kriteria papan pemantauan khusus. Ini berimplikasi pada eligibility saham yang akan berada dalam FCA.
- Kebijakan harus seimbang: tidak terlalu restriktif sehingga menghambat perusahaan kecil, namun cukup ketat untuk menjaga kualitas dan kredibilitas papan tersebut.
-
Kesiapan Sistem Pendukung (Clearing‑Settlement)
- Karena eksekusi semua order terjadi bersamaan, beban pada sistem clearing (KSEI) juga akan meningkat pada saat penutupan auction.
- Integrasi real‑time antara BEI, KSEI, dan bank kustodian harus diuji secara menyeluruh.
4. Analisis Perbandingan dengan Bursa Lain
| Bursa | Mekanisme | Tahun Implementasi FCA | Hasil Utama |
|---|---|---|---|
| NYSE (USA) | Closing Auction + Opening Auction | 1976 (Opening), | |
| 1978 (Closing) | Volatilitas penutupan turun ~30 %; likuiditas meningkat | ||
| 15‑20 % pada saham mid‑cap. | |||
| LSE (UK) | Opening/Closing Call Auction | 2000‑2002 | Penetapan harga |
| lebih stabil, meningkatkan kepercayaan investor institusional. | |||
| TSE (Jepang) | Opening Auction (pre‑opening) | 2000 | Mengurangi |
| “price manipulation” pada IPO dan penutupan. | |||
| SGX (Singapura) | Closing Call Auction (CAP) | 2006 | Memperbaiki |
| keadilan harga saham REIT dan ETF. |
Dari experience tersebut, keberhasilan FCA biasanya bergantung pada tiga faktor kunci: (a) ketepatan algoritma penyeimbangan (price‑finding), (b) kesiapan likuiditas institusional, dan (c) transparansi pasca‑auction (publikasi order book dan price‑discovery). BEI dapat mengadopsi best‑practice berikut:
- Algoritma “Weighted Median”: memberikan bobot lebih tinggi pada order dengan volume besar, namun tetap mempertahankan keseimbangan.
- Publikasi “Indicative Auction Price” (IAP) secara real‑time beberapa menit sebelum penutupan, memungkinkan peserta menyesuaikan order.
- Penggunaan “Liquidity‑Providing Funds” sebagai market maker khusus yang berhak mendapatkan fee rebate.
5. Rekomendasi Kebijakan dan Implementasi
-
Roadmap Fasa Implementasi
- Fase I (2024‑2025): Uji coba pilot pada subset saham papan pemantauan khusus (misalnya sektor teknologi dan consumer).
- Fase II (2025‑2026): Ekspansi ke seluruh papan PEM, evaluasi hasil terkait volatilitas, volume, dan kepuasan peserta.
- Fase III (2026‑2027): Full roll‑out, termasuk penyesuaian aturan listing.
-
Peningkatan Insentif bagi Penyedia Likuiditas
- Skema fee rebate berbasis volume yang diperdagangkan selama auction.
- Penghargaan “Best Execution” bagi market maker yang mencapai spread terketat.
-
Framework Pengawasan dan Penegakan
- OJK dan BEI harus memperkuat surveillance selama periode auction untuk mendeteksi upaya manipulasi (misalnya spoofing dengan order “ghost”).
- Penetapan sanksi yang jelas dan cepat bila terdapat pelanggaran.
-
Pengembangan Platform Edukasi Digital
- Simulasi interaktif “Virtual Auction” yang memungkinkan investor ritel berlatih mengirimkan order dalam lingkungan yang aman.
- Modul “FAQ FCA” yang diintegrasikan ke aplikasi BEI Mobile.
-
Konsultasi Publik dan Stakeholder Engagement
- Sesi dialog terbuka dengan asosiasi broker, dana pensiun, dan perusahaan tercatat untuk mengidentifikasi risiko operasional dan regulasi yang belum tercover.
- Publikasi laporan evaluasi tri‑bulanan yang dapat diakses publik, menumbuhkan kepercayaan.
6. Dampak Jangka Panjang Bagi Pasar Modal Indonesia
-
Peningkatan Daya Saing Global
Dengan adopsi FCA, BEI dapat mencontohkan standar internasional dalam price discovery yang transparan, menjadikan IDX lebih menarik bagi investor asing yang menghargai integritas harga. -
Perluasan Basis Investasi
Instrumen dana indeks dan ETF yang meniru komposisi saham dengan FCA akan memiliki basis harga yang lebih stabil, mempermudah proses rebalancing. -
Penguatan Reformasi Pasar Modal
FCA menjadi pilar penting dalam agenda reformasi, bersama dengan kebijakan capital market digitalization, green financing, dan ESG reporting. Konsistensi antar inisiatif akan meningkatkan efisiensi alokasi modal ke sektor produktif. -
Pengurangan Risiko Sistemik
Dengan volatilitas penutupan yang lebih rendah, risiko “flash crash” pada sesi penutupan dapat diminimalisir, mengurangi tekanan pada likuiditas harian dan menurunkan potensi contagion pada pasar derivatif.
7. Kesimpulan
Penerapan Full Call Auction (FCA) di Bursa Efek Indonesia menandai langkah strategis dalam rangka memperkuat transparansi, keadilan, dan efisiensi perdagangan saham, terutama bagi perusahaan yang berada di papan pemantauan khusus. Evaluasi yang dijadwalkan selesai pada kuartal II‑2026 menunjukkan komitmen BEI untuk menyelesaikan proses dengan cermat, sambil tetap mengedepankan penyederhanaan—bukan penambahan kompleksitas.
Keberhasilan FCA akan sangat bergantung pada kesiapan teknologi, partisipasi aktif market maker, edukasi yang menyeluruh bagi seluruh pelaku pasar, serta regulasi yang adaptif dan tegas. Jika tantangan‑tantangan tersebut dapat dikelola secara proaktif, FCA bukan hanya akan meningkatkan kualitas harga dan menurunkan volatilitas, melainkan juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar modal yang modern, kredibel, dan kompetitif di kancah global.
Semoga tanggapan ini memberikan gambaran komprehensif tentang potensi, tantangan, dan langkah‑langkah konkret yang dapat diambil dalam proses implementasi FCA di BEI.