Gold Rush Terhenti? Permintaan Emas di India dan China Menurun di

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 12 April 2026

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum Situasi Pasar Emas (April 2026)

  • India:

    • Harga domestik emas mencapai 152.800 rupiah per 10 gram, sedikit di bawah puncaknya tiga minggu lalu (154.934 rupiah).
    • Konsumen menahan diri karena harga masih tinggi meskipun menjelang Akshaya Tritiya, festival terbesar kedua untuk pembelian emas setelah Dhanteras.
    • Penjualan ritel menurun signifikan; pedagang melaporkan jumlah pengunjung toko jauh di bawah rata‑rata.
  • China:

    • Premi batangan emas di pasar domestik hanya US$ 3‑5 per troy ounce di atas harga referensi internasional, turun tajam dari US$ 12‑17 pekan sebelumnya.
    • Penurunan premi disebabkan oleh kelemahan permintaan ritel dan spekulasi pelonggaran kuota impor emas.
    • Bank Sentral China (PBOC) tetap menjual emas untuk ke‑17 bulan berturut‑turut, menambah dukungan pada sentimen pasar meski permintaan investasi masih selektif.

2. Faktor‑Faktor yang Menekan Permintaan Ritel di India

Faktor Penjelasan
Harga Tinggi Kenaikan 2–3 % dalam tiga minggu terakhir membuat

10 gram emas hampir mencapai batas psikologis bagi banyak pembeli kelas menengah. | | Inflasi & Daya Beli | Tingkat inflasi makanan & energi masih di atas target RBI, mengurangi sisa pendapatan yang dapat dialokasikan untuk investasi emas. | | Kebijakan Pajak | PPN dan bea masuk pada barang mewah tetap tinggi, sehingga biaya total pembelian emas kasir meningkat. | | Preferensi Konsumen | Generasi milenial lebih memilih aset digital (cryptocurrency, tokenisasi emas) sebagai alternatif penyimpanan nilai. | | Kondisi Ekonomi Global | Tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar menambah beban impor emas, meski pemerintah menahan depresiasi. |

3. Mengapa Premi Emas di China Menyusut?

  1. Permintaan Ritel Lemah

    • Data penjualan perhiasan menunjukkan penurunan 25 % YoY. Konsumen lebih menahan diri karena ketidakpastian ekonomi dan kebijakan “zero‑COVID” yang masih memengaruhi rasa percaya.
  2. Ekspektasi Pelonggaran Kuota Impor

    • Pemerintah China diprediksi akan menurunkan kuota impor logam mulia pada kuartal berikutnya untuk menstabilkan nilai tukar yuan. Hal ini menurunkan premi domestik karena pasokan diprediksi akan lebih melimpah.
  3. Kebijakan Moneter PBOC

    • Pembelian emas oleh bank sentral (kontrak swap dan spot) tetap konsisten, menjadikan permintaan institusional sebagai penopang utama harga, sementara premi ritel menurun.
  4. Fluktuasi Harga Spot Global

    • Harga emas spot mengalami penurunan 1,1 % dalam seminggu terakhir karena penguatan dolar AS dan koreksi pasar risiko setelah penurunan suku bunga di beberapa negara maju.

4. Implikasi Bagi Stakeholder

Stakeholder Implikasi Rekomendasi
Retailer Emas India Penurunan penjualan memaksa mereka
menyesuaikan stok dan margin. Diversifikasi produk (mis. perhiasan

dengan batu semi‑mulia), menawarkan cicilan tanpa bunga, atau mengadopsi platform e‑commerce untuk menjangkau konsumen digital. | | Investor Ritel Global | Harga emas yang tinggi di India & rendah di China menciptakan arbitrase geografis terbatas karena kontrol modal. | Pertimbangkan ETF emas atau tokenisasi yang memungkinkan eksposur tanpa harus membeli fisik di pasar lokal. | | Bank Sentral (PBOC & RBI) | Kebijakan pembelian emas tetap menjadi stabilizer pasar. | PBOC dapat meningkatkan transparansi volume pembelian untuk mengurangi spekulasi; RBI dapat mempertimbangkan penurunan tarif bea masuk untuk mengembalikan minat pada perhiasan tradisional pada musim festival. | | Produsen Tambang Emas | Penurunan permintaan ritel dapat menurunkan harga jangka pendek, namun permintaan institusional tetap kuat. | Fokus pada kontrak jangka panjang dengan lembaga keuangan, dan eksplorasi produk nilai tambah (mis. emas foil, dust, atau master‑batch). | | Konsumen Akhir | Kombinasi harga tinggi & permintaan lemah menekan keputusan pembelian. | Jika ingin memanfaatkan festival Akshaya Tritiya, pertimbangkan pembelian bertahap (dollar‑cost averaging) atau memperoleh emas dalam bentuk digital yang dapat dikonversi ke fisik nanti. |

5. Outlook Pasar Emas 2026‑2027

Faktor Proyeksi
Harga Spot Global Diperkirakan stabil antara

US$ 1.850‑1.950 per troy ounce, dengan fluktuasi tergantung pada kebijakan suku bunga Fed dan geopolitik (mis. ketegangan di Timur Tengah). | | Premi China | Kemungkinan tetap rendah (US$ 3‑6) hingga kuartal ketiga 2026, kecuali ada intervensi kebijakan kuota yang signifikan. | | Permintaan India | Pulih menjelang Festival Akshaya Tritiya (April 2026) jika harga turun <5 % dari level saat ini; sebaliknya, tetap lemah bila premi berlanjut. | | Pembelian Bank Sentral | PBOC kemungkinan mengurangi pembelian setelah kuartal ke‑18, sementara bank sentral lain (mis. Rusia, Turki) dapat meningkatkan pembelian sebagai hedge nilai tukar. | | Tren Digitalisasi | Tokenisasi emas dan platform fintech akan menarik generasi muda, menurunkan persentase penjualan fisik di pasar ritel tradisional. |

6. Kesimpulan

  • Meskipun akumulasi emas di India dan China tetap tinggi secara historis, dinamika saat ini menunjukkan kontraksi tajam pada permintaan ritel akibat harga yang masih premium, inflasi domestik, dan perubahan perilaku konsumen yang beralih ke aset digital.
  • Bank sentral, terutama PBOC, tetap menjadi penopang utama bagi sentimen pasar global; kebijakan mereka akan terus menjadi faktor kunci dalam mengatur premi domestik.
  • Para pelaku pasar (retailer, investor, pembuat kebijakan) harus menyesuaikan strategi: retailer mengadopsi kanal digital, investor mengoptimalkan eksposur lewat produk keuangan yang likuid, dan pembuat kebijakan menyeimbangkan tarif bea masuk serta kebijakan kuota untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan permintaan domestik.
  • Jika harga emas dapat menurun sedikit (≈5 %) menjelang Akshaya Tritiya, permintaan India kemungkinan akan bangkit kembali, memberi dorongan sementara pada pasar global. Namun, kecenderungan jangka panjang tetap mengarah pada demikronisasi antara permintaan ritel dan permintaan institusional, serta digitalisasi sebagai pendorong utama pasar emas di tahun‑tahun mendatang.

Catatan: Analisis ini didasarkan pada data hingga 12 April 2026 dan mengasumsikan tidak terjadi kejutan geopolitik atau kebijakan moneter yang drastis dalam enam bulan mendatang. Pergerakan selanjutnya harus dipantau secara berkala oleh semua pihak yang berkepentingan.

Tags Terkait