Market Order di BEI: Lompatan Kecepatan Eksekusi, Peluang Baru bagi Investor, dan Tantangan yang Perlu Diwaspadai

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 11 December 2025

Tanggapan Panjang

1. Latar Belakang & Ringkasan Berita

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat infrastruktur pasar modalnya dengan menonjolkan fitur Market Order sebagai bagian dari rangkaian inisiatif modernisasi. Pada konferensi pers 11 Desember 2025, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menekankan tiga poin utama:

  1. Peningkatan pemanfaatan – dari tahun 2024 ke 2025 terjadi lonjakan 98,5 % dalam penggunaan Market Order.
  2. Keunggulan eksekusi – Market Order memiliki prioritas lebih tinggi, dijalankan pada “best available price” tanpa harus menunggu pencocokan harga limit.
  3. Statistik penggunaan – pada Agustus 2025, Market Order menyumbang 4,23 % total order matched, dengan volume harian melebihi Rp 1 triliun.

Jeffrey menambahkan bahwa fitur ini sangat berguna untuk saham yang mengalami gap up/gap down, volatilitas tinggi, serta saham baru listing (termasuk tipe “fill‑and‑kill” pada sesi pre‑opening).


2. Mengapa Market Order Menjadi Penting di Pasar Indonesia

Aspek Manfaat bagi Investor Dampak bagi Bursa
Kecepatan Eksekusi instan, mengurangi “slippage” pada pergerakan harga cepat. Meningkatkan likuiditas dan turnover harian.
Simplicity Tidak perlu men-set harga, cocok bagi investor ritel yang belum familiar dengan strategi limit. Mempermudah onboarding investor baru.
Akses ke Volatilitas Memanfaatkan momentum pada perusahaan IPO atau saham dengan pergerakan tajam. Memperluas partisipasi pada segmen saham “high‑beta”.
Keterjangkauan Mengurangi kebutuhan analisis teknikal‑harga limit, menurunkan entry barrier. Membantu BEI bersaing dengan bursa regional yang sudah mengadopsi market‑order secara luas.

Pasar Indonesia masih didominasi oleh order limit tradisional, yang memaksa investor menunggu pencocokan harga. Dengan menambahkan opsi market order, BEI memberikan alternatif yang lebih efisien, terutama bagi investor ritel yang kini menjadi mayoritas transaksi di bursa.


3. Risiko & Tantangan yang Perlu Dipertimbangkan

Walaupun keuntungan jelas, adopsi market order tidak lepas dari risiko:

  1. Slippage Ekstrem

    • Pada saat likuiditas rendah (misalnya di luar jam trading atau pada saham thinly traded), market order dapat ter‑eksekusi jauh di bawah/atas harga yang diharapkan.
    • Investor ritel yang tidak memahami konsekuensi ini dapat terkena kerugian signifikan.
  2. Pengaruh pada Harga Pasar

    • Order besar yang dijalankan secara market dapat menimbulkan “price impact”, menurunkan (atau menaikkan) harga secara tiba‑tiba.
    • Hal ini berpotensi menciptakan volatilitas yang tidak diinginkan, khususnya pada saham dengan kapitalisasi kecil.
  3. Kebutuhan Infrastruktur

    • Sistem Matching Engine BEI harus dapat memproses order dalam skala mikro‑detik untuk menghindari latency‑induced errors.
    • Peningkatan beban pada server dan jaringan harus diimbangi dengan kapasitas backup yang memadai.
  4. Pendidikan Investor

    • Tanpa edukasi yang memadai, investor dapat salah mengartikan “eksekusi cepat = profit cepat”.
    • Kebutuhan untuk menyertakan disclaimer dan modul pelatihan khusus tentang market order menjadi penting.

4. Implikasi bagi Kebijakan & Regulasi

Area Rekomendasi Kebijakan
Pengawasan Risiko BEI dapat menetapkan limit maksimum persentase order market per saham per hari untuk menghindari manipulasi volume.
Transparansi Harga Wajib menampilkan best‑available price secara real‑time pada platform trading, serta memperlihatkan estimasi slippage sebelum konfirmasi order.
Edukasi Luncurkan kampanye “Market Order 101” via webinar, modul e‑learning, dan simulasi trading pada aplikasi brokerage.
Teknologi Tingkatkan colocation dan low‑latency feed untuk broker, sekaligus melakukan stress‑test sistem pada skenario order spike (mis., saat IPO atau earnings surprise).
Pelaporan Wajib laporkan statistik harian market order (volume, nilai, rata‑rata slippage) ke OJK dan publikasi dalam laporan bulanan BEI.

Regulasi yang bersifat preventif dan pendidikan akan menyeimbangkan antara pertumbuhan penggunaan market order dan perlindungan investor.


5. Strategi Praktis Bagi Investor Ritel

  1. Pahami Likuiditas Saham

    • Cek average daily volume (ADV) dan order book depth sebelum menggunakan market order. Saham dengan ADV > 10 % kapitalisasi pasar biasanya aman.
  2. Gunakan “Market‑on‑Close” (MOC) atau “Opening‑Market” (OM) Jika Perlu

    • Untuk eksekusi pada penutupan atau pembukaan sesi, pilih sub‑tipe order yang menyesuaikan dengan volatilitas pasar.
  3. Pertimbangkan “Fill‑and‑Kill” (FAK) Secara Selektif

    • FAK cocok pada saham IPO atau saham yang diperkirakan akan “gap up”. Namun, pastikan ukuran order tidak melebihi 10 % likuiditas harian.
  4. Setting Stop‑Loss dan Take‑Profit Setelah Eksekusi

    • Karena market order tidak mengontrol harga, pasang limit order setelah order ter‑isi untuk melindungi posisi.
  5. Manfaatkan Simulator

    • Sebelum menerapkan di akun real, lakukan simulasi di platform demo untuk mengukur potensi slippage.

6. Dampak Jangka Panjang pada Pasar Modal Indonesia

  • Peningkatan Volume & Likuiditas

    • Dengan eksekusi yang lebih cepat, lebih banyak trader (termasuk algoritmik) akan berpartisipasi, memperluas depth pasar.
  • Aksesibilitas bagi Generasi Milenial & Gen‑Z

    • Fitur sederhana ini dapat menarik investor muda yang terbiasa dengan aplikasi “instant‑pay” dan “one‑click buy”.
  • Kesiapan Menghadapi Pasar Global

    • Bursa Asia lain (mis., Singapore Exchange, Hong Kong Stock Exchange) telah lama menawarkan market order. Penambahan ini menempatkan BEI sejajar dalam hal teknologi perdagangan.
  • Persaingan antara Broker

    • Broker akan bersaing untuk menawarkan executions fee lebih rendah, platform UI/UX intuitif, dan fitur “smart‑order routing” yang meminimalkan slippage.
  • Potensi Inovasi Lanjutan

    • Keberhasilan market order membuka pintu bagi inovasi lain seperti dark pool, block trade, atau real‑time risk‑based margin pada margin account.

7. Kesimpulan

Implementasi Market Order oleh BEI menandai langkah strategis dalam mempercepat eksekusi perdagangan, mempermudah proses bagi investor ritel, serta meningkatkan daya saing Bursa Indonesia di level regional.

Namun, kecepatan tidak boleh mengorbankan keamanan. Risiko slippage, dampak likuiditas, dan potensi mis‑use memerlukan kerangka regulasi yang kuat, infrastruktur teknologi yang handal, serta program edukasi yang menyeluruh.

Jika BEI dapat menyeimbangkan ketiga pilar tersebut — teknologi, regulasi, edukasi — market order akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia, membuka pintu bagi investasi yang lebih inklusif, dinamis, dan terintegrasi dengan ekosistem keuangan global.

“Kecepatan eksekusi hanyalah setengah dari kemenangan; pemahaman tentang kapan dan bagaimana menggunakannya adalah kunci utama.”


Rekomendasi Kebijakan Utama:

  1. Restriksi persentase market order per saham untuk melindungi pasar dari shock volume.
  2. Wajib menampilkan estimasi slippage pada UI trading sebelum konfirmasi.
  3. Program edukasi mandatory bagi nasabah baru sebelum mengaktifkan fitur market order.

Dengan langkah‑langkah ini, BEI dapat memastikan bahwa inovasi market order tidak hanya meningkatkan kecepatan, tetapi juga kualitas perdagangan di pasar modal Indonesia.