Rekor Permintaan Emas 2025-2026: Safeguard Ekonomi di Tengah Gejolak Global dan Peralihan Kebijakan Moneter

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 30 January 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Peristiwa

World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa pada tahun 2025‑2026 permintaan emas global mencapai 5.002 metrik ton (MT)—tingkat tertinggi dalam sejarah industri. Kenaikan ini didorong oleh:

  • Ketidakstabilan perdagangan internasional (tarif, sanksi, dan kebijakan proteksionis).
  • Gejolak geopolitik (konflik regional, ketegangan antara blok besar, dan krisis energi).
  • Penurunan kepercayaan terhadap dolar AS sebagai mata uang cadangan utama.

Harga spot emas melampaui US$ 5.300 per ons (pencapaian pertama) dan pada 2026 telah menguat 22 % dari level awal tahun, melanjutkan reli 64 % yang dimulai pada 2025.

2. Penyebab Utama Lonjakan Permintaan

Faktor Penjelasan Dampak pada Harga & Volume
Ketegangan geopolitik Konflik di Eurasia, ketegangan di Laut China‑Selat Taiwan, serta ketidakpastian mengenai kebijakan NATO‑Rusia. Investor institusional mengalihkan alokasi ke emas sebagai “safe‑haven”.
De‑dollarization Negara‑negara seperti Rusia, Tiongkok, dan beberapa negara berkembang mengurangi eksposur terhadap dolar dan menambah cadangan emas. Permintaan institusional naik, memberi dukungan jangka panjang pada harga.
Inflasi & kebijakan moneter ketat Kebijakan suku bunga tinggi di AS dan Eropa menurunkan likuiditas pasar obligasi, menambah keinginan akan aset yang tidak terinflasi. Emas dipandang sebagai pelindung nilai (hedge) terhadap inflasi.
Kelemahan pasar perhiasan Harga emas yang tinggi menurunkan daya beli konsumen, terutama di pasar perhiasan tradisional (China, India). Penurunan ~18 % pada permintaan perhiasan, namun tidak berpengaruh signifikan pada total permintaan karena dominasi sektor investasi.

3. Peran Sentral Bank

  • Bank Sentral tetap agresif: Pembelian emas oleh bank sentral diproyeksikan tetap tinggi (≈850 ton pada 2026). Walaupun ada sedikit penurunan dibanding 2025 (863 ton), level ini jauh di atas rata‑rata pra‑2022.
  • Diversifikasi cadangan: Gold kini menempati kembali posisi historis sebagai “anchor” dalam cadangan devisa, terutama di wilayah dengan eksposur dolar yang tinggi.
  • Implikasi kebijakan: Kenaikan kepemilikan emas memberi sinyal kepada pasar bahwa bank sentral mengantisipasi volatilitas nilai tukar dan potensi “flight‑to‑currency” di masa depan.

4. Dampak pada Sektor Perhiasan

  • Penurunan tajam di China (‑24 %) yang menjadi pasar perhiasan terbesar dunia. Harga mahal membuat konsumen beralih ke alternatif (perhiasan berbahan logam lain atau barang mewah non‑logam).
  • Pergeseran demografis: Generasi milenial dan Gen‑Z lebih memilih investasi digital (ETF emas, kripto) daripada perhiasan fisik sebagai penyimpan nilai.
  • Peluang bagi produsen: Penurunan volume membuka ruang bagi inovasi—misalnya, perhiasan “designer” dengan kadar emas lebih rendah atau model berbasis “gold‑linked” token.

5. Implikasi bagi Investor

Tipe Investor Strategi yang Direkomendasikan
Institusi (pension funds, sovereign wealth funds) Menambah alokasi fisik gold (bars, bullion) untuk diversifikasi cadangan; mempertimbangkan kontrak forward untuk mengunci harga.
Ritel (individu) Diversifikasi portofolio antara ETF emas, saham penambang, dan gold‑linked digital assets; hindari over‑exposure (>10 % aset) mengingat volatilitas harga jangka pendek.
Trader jangka pendek Manfaatkan momentum bullish melalui futures & options; tetap waspada pada koreksi teknikal (resistensi di US$ 5.500–5.600).
Pengusaha perhiasan Fokus pada segmen premium (custom design, high‑karat) serta menambah layanan “gold‑backed” digital untuk menarik konsumen yang menginginkan likuiditas.

6. Risiko yang Perlu Diwaspadai

  1. Kebijakan Moneter AS yang Kebalik: Jika Federal Reserve memulai siklus penurunan suku bunga secara agresif, dolar bisa menguat kembali, menurunkan daya tarik emas.
  2. Pemulihan Ekonomi Global: Jika pertumbuhan ekonomi menguat secara signifikan, aliran dana kembali ke risiko aset (saham, obligasi) dapat mengurangi permintaan safe‑haven.
  3. Penurunan Tajam Harga Energi: Karena sebagian besar biaya penambangan emas bergantung pada energi (listrik, diesel), penurunan harga energi dapat meningkatkan profitabilitas penambang, tetapi juga membuka kemungkinan oversupply jika penambang meningkatkan produksi secara signifikan.
  4. Regulasi Kripto & Gold‑Linked Tokens: Kenaikan produk tokenisasi emas dapat mengubah dinamika permintaan fisik vs. digital; regulasi yang ketat dapat mengekang pertumbuhan pasar ini.

7. Outlook 2027‑2030

  • Permintaan institusional diperkirakan akan tetap berada di kisaran 850‑900 ton per tahun, seiring negara‑negara berkembang menambah cadangan fisik.
  • Permintaan investasi (ETF, kontrak berjangka) mungkin akan tumbuh 10‑15 % per tahun bila volatilitas geopolitik berlanjut.
  • Perhiasan kemungkinan akan stabil pada level ~4 MT (setelah penurunan 2025) dengan pertumbuhan bertahap di pasar‑pasar emergen (Afrika, Timur Tengah) melalui produk emas “bukan konvensional”.
  • Harga emas dapat menembus US$ 6.000‑6.500 per ons dalam skenario “high‑inflation + de‑dollarization”, namun skenario “moderate recovery + dollar strength” dapat menurunkan ke kisaran US$ 5.200‑5.400.

8. Kesimpulan

Rekor permintaan emas 2025‑2026 menegaskan peran emas sebagai aset penyimpan nilai utama di era ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik. Meskipun sektor perhiasan mengalami penurunan, permintaan institusional dan investasi tetap mendorong pasar ke level harga yang belum pernah tercapai sebelumnya.

Bagi para pelaku pasar, kunci keberhasilan adalah diversifikasi cerdas, pemantauan kebijakan moneter global, serta kesiapan menghadapi fluktuasi jangka pendek sambil memanfaatkan tren de‑dollarization yang masih dalam fase awal. Emas, kini, bukan sekadar logam mulia—ia adalah jangkar stabilitas keuangan dunia yang kembali menarik perhatian seluruh ekosistem keuangan.

Tags Terkait