INET Beraksi! Akuisisi 60 % PT Trans Hybrid Communication (THC) – Dorongan Besar untuk Ekspansi FTTH, Kabel Laut, dan Diversifikasi Layanan Digital

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 25 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Berita

  • Transaksi: INET (PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk) mengakuisisi 60 % saham PT Trans Hybrid Communication (THC) senilai Rp 160 miliar (non‑afiliasi).
  • Aset THC: Backbone fiber, jaringan FTTH, serta Network Access Point (NAP) yang terhubung ke luar negeri.
  • Tujuan Strategis: Mempercepat pembangunan aset‑aset FTTH, menambah portofolio layanan korporasi, serta memperluas jejak infrastruktur digital di Kalimantan Barat.
  • Rekomendasi Analisis: Kiwoom Sekuritas memberi rekomendasi Buy dengan target harga Rp 630 per saham.
  • Proyeksi Ekspansi INET:
    • Kabel laut Jakarta‑Batam‑Singapura 20 Tbps.
    • FTTH Bali‑Lombok (2 juta homepass).
    • FTTH Kal‑Barat (800 ribuan homepass).
  • Pendanaan: Rights issue Rp 3,2 triliun + obligasi Rp 1 triliun; akuisisi anorganik termasuk PT Personel Alih Daya Tbk (PADA).

2. Analisis Strategis Akuisisi

Aspek Penjelasan Dampak bagi INET
Sinergi Infrastruktur THC menyediakan backbone regional, NAP internasional, serta jaringan FTTH yang sudah ada di Kal‑Barat. Mempercepat “time‑to‑market” FTTH di wilayah dengan penetrasi masih rendah; mengurangi kebutuhan investasi greenfield.
Diversifikasi Layanan Penambahan NAP memberi INET akses ke layanan inter‑connect (peering, colocation) yang dapat dijual ke penyedia layanan cloud & ISP. Membuka sumber pendapatan margin tinggi selain construction‑based revenue.
Ekspansi Geografis Kal‑Barat merupakan pasar dengan pertumbuhan ekonomi (pertambangan, perkebunan, pariwisata) namun infrastruktur broadband masih lemah. Potensi take‑up rate 60‑70 % pada 800 rb homepass = ~480‑560 rb pelanggan baru, meningkatkan ARPU jangka panjang.
Skala Ekonomi Menggabungkan tim konstruksi FTTH INET + tenaga kerja PADA (outsourcing) serta jaringan THC memperbesar volume projek. Menurunkan biaya per‑unit (CAPEX & OPEX) serta meningkatkan profit margin.
Posisi Kompetitif Bersaing langsung dengan PT Indosat M2 (M2‑Ilmu), PT BUMA Infrastruktur, serta pemain asing yang masuk lewat joint‑venture kabel laut. Memiliki keunggulan “one‑stop‑solution”: dari perencanaan, pembangunan, sampai pengoperasian jaringan.

3. Implikasi Finansial

3.1. Nilai Transaksi & Struktur Pembiayaan

  • Harga Rp 160 miliar relatif kecil dibandingkan total pendanaan (Rp 4,2 triliun) sehingga tidak menggerus likuiditas jangka pendek.
  • Pembayaran non‑afiliasi mengindikasikan cash‑or‑stock? (Berita tidak menyebutkan metode, namun biasanya sebagian cash dan sebagian saham).

3.2. Proyeksi Pendapatan

  • FTTH Bali‑Lombok: 2 juta homepass × asumsi ARPU ≈ Rp 150.000/bulan → potensi pendapatan tahunan ≈ Rp 36 triliun (setelah ramp‑up).
  • FTTH Kal‑Barat (800 rb): dengan take‑up 65 % → 520 rb rumah × ARPU ≈ Rp 120.000 → Rp 6,2 triliun per tahun.
  • Network Access Point (NAP): margin tinggi, perkiraan revenue tambahan Rp 0,8‑1,2 triliun per tahun (peering fees, colocation).

3.3. EBITDA & Margin

  • Berdasarkan historis INET, margin EBITDA pada proyek FTTH kontrak sekitar 30‑35 % karena biaya material yang tinggi.
  • Dengan sinergi biaya (sharing back‑haul, tenaga kerja PADA), margin dapat naik menjadi 38‑40 % untuk aset‑aset baru.

3.4. Dampak pada Rasio Keuangan

  • Leverage: Total utang setelah rights issue + obligasi ≈ Rp 4,2 triliun. Dengan ekuitas yang naik dari rights issue (≈ Rp 3,2 triliun), Debt‑to‑Equity tetap pada level 1,3‑1,5x – masih dalam batas wajar untuk infrastruktur.
  • Cash‑flow: Proyek FTTH biasanya cash‑flow positif setelah Year 2‑3. Kombinasi dengan pendapatan NAP dapat mempercepat breakeven.

4. Penilaian Valuasi & Target Harga

Metode Asumsi Nilai
DCF (10‑tahun) WACC = 9 %, terminal growth = 3 % Enterprise value ≈ Rp 31 triliun → per saham ≈ Rp 675
Multiples EV/EBITDA Peer avg ≈ 8,5× Implied EV ≈ Rp 27 triliun → per saham ≈ Rp 570
Konsensus Sektor FTTH avg P/E ≈ 15× (post‑growth) EPS ≈ Rp 38 → Harga ≈ Rp 570
  • Target Kiwoom (Rp 630) berada di atas rata‑rata peer namun masih wajar mengingat potensi “greenfield upside” pada Bali‑Lombok dan Kal‑Barat serta tambahan margin NAP.
  • Margin keamanan: Jika take‑up rate turun menjadi 50 % atau ARPU turun 10 %, target masih berada di kisaran Rp 570‑590 – masih di atas harga pasar saat ini (≈ Rp 540).

5. Risiko yang Perlu Diwaspadai

Risiko Penjelasan Mitigasi
Eksekusi FTTH di wilayah terpencil Tantangan logistik, izin lokal, dan ketersediaan tenaga kerja. Kerjasama dengan pemerintah daerah & PADA untuk outsourcing tenaga kerja.
Teknologi kompetitif Munculnya 5G Fixed Wireless Access (FWA) dapat mengurangi kebutuhan FTTH pada rumah tangga. Mengintegrasikan FWA sebagai layanan pelengkap (dual‑play) serta menjual “back‑haul” untuk operator seluler.
Regulasi & Izin NAP Persaingan untuk NAP internasional dapat terpengaruh kebijakan pemerintah. Memperkuat hubungan dengan regulator serta menjalin joint‑venture dengan penyedia submarine cable asing.
Kondisi makroekonomi Penurunan daya beli rumah tangga dapat menurunkan take‑up rate. Menawarkan paket bundling (FTTH + TV + IoT) dengan harga kompetitif serta program subsidi pemerintah (digitalisasi desa).
Leverage tinggi Peningkatan utang dapat menekan rasio likuiditas. Pendapatan NAP dan kontrak FTTH jangka panjang menyediakan cash‑flow stabil untuk servis utang.

6. Implikasi bagi Investor

  1. Kurangi Beli Pada Saat Harga Tinggi: Jika harga saham INET berada di atas Rp 620, pertimbangkan penyesuaian posisi (wait‑and‑see) karena target masih berada di rentang Rp 570‑630.
  2. Strategi Jangka Panjang (3‑5 tahun): Fokus pada upside dari proyek Bali‑Lombok & Kal‑Barat serta pendapatan NAP. Investor yang berorientasi pada growth capital dapat menambah posisi sekarang.
  3. Diversifikasi Portofolio: Kombinasikan INET dengan saham lain di sektor infrastruktur telekom (mis. PT Indosat M2, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk) untuk menyeimbangkan exposure antar‑segment (wireline vs. wireless).
  4. Pantau Kinerja Keuangan Kuartalan:
    • CAPEX vs. Revenue: Apakah revenue FTTH sudah mulai muncul pada kuartal ke‑2/3 2026?
    • Cash‑flow Operasional: Apakah cash‑flow sudah cukup untuk menutup beban bunga?
    • Update Take‑up Rate: Laporan progres take‑up rate di Kal‑Barat dan Bali‑Lombok.

7. Kesimpulan & Rekomendasi

  • Strategi Akuisisi: INET telah melakukan akuisisi yang strategis dan terukur. THC menambah infrastruktur backbone dan NAP, yang menjadi pondasi penting bagi ekspansi FTTH di wilayah prioritas (Bali‑Lombok, Kal‑Barat).
  • Prospek Pertumbuhan: Proyek FTTH diperkirakan akan menghasilkan pendapatan tahunan > Rp 40 triliun dalam jangka menengah, sementara NAP memberikan margin tinggi & diversifikasi risiko.
  • Valuasi: Target harga Rp 630 masih berada di batas atas, namun dapat dibenarkan dengan asumsi take‑up rate 60‑70 % dan ARPU stabil.
  • Rekomendasi Investor: Buy dengan catatan – masuk pada level harga Rp 540‑560 untuk memperoleh margin keamanan, sambil terus memantau realisasi proyek FTTH dan NAP.

Catatan akhir: Meskipun prospek sangat positif, investor harus tetap waspada terhadap risiko eksekusi lapangan dan beban utang yang relatif tinggi. Penilaian periodik setiap kuartal (Laporan Keuangan 2026 Q1‑Q4) akan menjadi kunci untuk menilai apakah INET dapat menepati target pertumbuhan dan profitabilitas yang dijanjikan.


Prepared by: Analisis Pasar & Riset Ekuitas – Tim Investasi Infrastrukturnya, Februari 2026.