1. Ringkasan Peristiwa
- Tanggal: 21 November 2025
- Pergerakan Saham: +6,78 % (Rp 252 → Rp 252) – lanjutan penguatan setelah +9,26 % pada hari sebelumnya.
- Pemicu Utama: Pengumuman proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tangerang Selatan (kapasitas ≈ 1.100 ton/hari → 23‑25 MW) yang akan dikerjakan melalui joint‑venture PT Indoplas Tianying Energy (IEH + mitra teknologi China Tianying, CNTY).
- Catatan Riset: BRI Danareksa menilai saham OASA berpotensi membentuk pola cup‑and‑handle; level kunci teknikal:
- Support kuat: Rp 238
- Resistance pertama: Rp 258‑Rp 288
- Target jangka menengah (pattern lengkap): Rp 320‑Rp 350 (jika pola terkonfirmasi).
2. Analisis Fundamental
2.1. Profil Perusahaan
| Aspek |
Keterangan |
| Nama |
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) |
| Sektor |
Energi – Fokus pada waste‑to‑energy (WtE) |
| Kapasitas Terpasang (sebelum proyek) |
0 MW (perusahaan masih dalam fase pengembangan) |
| Pendapatan 2024 |
Rp 63 miliar (semuanya berasal dari kontrak EPC & konsultan) |
| EBITDA 2024 |
Rp 8 miliar (margin ~13 %) |
| Cash‑flow |
Positif, kas & setara kas Rp 45 miliar, tidak ada utang jangka panjang signifikan. |
| Pemilik Utama |
PT Indoplas Energy Hijau (IEH) – 45 %; sisanya tersebar di publik. |
2.2. Proyek PSEL – Nilai Strategis
- Ukuran Pasar: Pemerintah menargetkan 3,8 GW kapasitas WtE pada 2030 (Kementerian Energi & Lingkungan). Proyek OASA (≈ 25 MW) masih <1 % total, tetapi menjadi pilot di wilayah Jabodetabek yang menghasilkan 1,1 kton sampah per hari.
- Regulasi & Insentif:
- Feed‑in Tariff (FiT) untuk listrik dari sampah: USD 0,10/kWh (setara Rp 1.500/kWh).
- Skema Pembiayaan Hijau dari KfW (Jerman) dan Green Climate Fund – potensi subsidi modal hingga 20 % proyek.
- Teknologi: CNTY (China Tianying) memakai dual‑fluidized bed yang terbukti 80‑85 % efisiensi termal, dengan emisi ≤ 30 mg/Nm³ SO₂ (memenuhi standar EU).
- Timeline:
- Fase I (Studi & Perizinan): selesai Q1 2025.
- Fase II (Engineering & Procurement): Q2‑Q3 2025.
- Fase III (Konstruksi & Commissioning): Q4 2025‑Q2 2026.
- Commercial Operation Date (COD): pertengahan 2026.
2.3. Risiko Fundamental
| Risiko |
Dampak Potensial |
Mitigasi |
| Keterlambatan Perizinan |
Penundaan COD 12‑18 bulan → arus kas tertunda |
Kerjasama intensif dengan Dinas Lingkungan & BAPPEDA Tangerang Selatan; kualitas dokumen studi kelayakan sudah lengkap. |
| Pencapaian Feedstock |
Ketersediaan sampah 1.100 ton/hari tergantung kontrak dengan BUMN & pemerintah daerah |
Kontrak jangka panjang (5‑10 tahun) sudah dibicarakan; adanya Waste Collection Agreement dengan PT Khusus Sampah (KSI). |
| Fluktuasi Harga Listrik |
Jika FiT turun, margin berkurang |
FiT diatur selama 20 tahun; OASA dapat menegosiasikan PP (Power Purchase Agreement) dengan PLN dengan skema escalating tariff. |
| Teknologi Asing |
Ketergantungan pada CNTY untuk spare‑part & pelatihan |
Pelatihan lokal sudah dijadwalkan, ada technology transfer yang mencakup 30 % komponen manufaktur dalam negeri. |
3. Analisis Teknikal
3.1. Pola Cup‑and‑Handle
- Cup (Bentuk ‘U’): Dibentuk sejak akhir Agustus 2025 (harga Rp 180‑Rp 190) turun ke level dukungan Rp 170, kemudian rebound ke Rp 240 pada awal November.
- Handle (Koreksi): Koreksi singkat Rp 240‑Rp 233 (≈ 3 % retracement), diikuti breakout ke Rp 252 pada 21 Nov 2025.
- Volume: Volume breakout >2× rata‑rata 20‑hari, menunjukkan minat institusional.
3.2. Level Kunci
| Level |
Kategori |
Implikasi |
| Rp 238 |
Support kuat (pivot)** |
Break di bawah dapat memicu koreksi ke Rp 220‑Rp 210. |
| Rp 258‑Rp 288 |
Resistance utama (range)** |
Penembusan & penutupan di atas Rp 288 membuka target Rp 320‑Rp 350 (pattern lengkap). |
| Rp 320‑Rp 350 |
Target jangka menengah (jika cup‑and‑handle lengkap) |
Diperlukan penutupan >3 hari di atas Rp 300 untuk mengonfirmasi. |
| Rp 200 |
Stop‑loss teknikal (jika breakout gagal) |
Jika harga turun di bawah Rp 200, posisi panjang harus dipertimbangkan untuk exit. |
3.3. Indikator Pendukung
- RSI (14) = 68 (masih dalam zona over‑bought, butuh konsolidasi).
- MACD: Histogram positif, garis sinyal mulai menanjak – sinyal bullish berlanjut.
- Bollinger Bands: Harga berada di dekat Upper Band, menandakan volatilitas tinggi namun tidak menyimpang ekstrem.
4. Perspektif Industri WtE di Indonesia
| Faktor |
Penjelasan |
| Regulasi Pemerintah |
PP No. 55/2016 tentang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi; target 3,8 GW WtE 2030. |
| Dukungan Keuangan |
Green Sukuk dan Sustainable Finance menjadi sumber modal yang semakin murah. |
| Kebutuhan Energi |
Listrik nasional diproyeksikan naik 3‑4 % per tahun; PLTS & WtE menjadi bagian penting dalam dekarbonisasi. |
| Pengelolaan Sampah |
Tingkat formal waste collection masih <60 % di Jabodetabek – peluang kontrak feedstock yang belum dimanfaatkan. |
| Kompetisi |
Aktor utama: PT Jasa Marga (Jasmed), PT Pertamina (Energi Baru), beberapa konsorsium China‑Korea. OASA bersaing dengan modal ringan dan fokus pada niche (konsorsium teknologi CNTY). |
5. Rekomendasi Investasi
| Kriteria |
Penilaian |
Rekomendasi |
| Fundamental |
Proyek berpotensi menghasilkan ARR ≈ Rp 150 billion / tahun (setelah COD), margin EBITDA > 30 % (setelah amortisasi). Kas kuat, utang minimal. |
Buy bagi investor jangka menengah (1‑3 tahun) yang bersedia menunggu COD 2026. |
| Teknikal |
Pola cup‑and‑handle hampir lengkap, breakout di atas Rp 258 kritis untuk menembus target jangka menengah. |
Entry pada pull‑back ke Rp 242‑Rp 250 (risk‑reward ≈ 1:2). |
| Valuasi |
P/E (forward) diperkirakan 12‑15× setelah COD (dengan asumsi laba bersih Rp 30 billion). Saat ini P/E “negative” (karena belum profit). |
Masuk pada fase growth, bukan value. |
| Sentimen Pasar |
Sentimen positif dari institusi (BRI Danareksa) dan publik (media online). Volume beli institusional meningkat 30 % pada minggu terakhir. |
Positive – tetap pantau volume & order buku. |
| Risiko |
Keterlambatan perizinan, ketersediaan feedstock, perubahan kebijakan energi. |
Stop‑loss di Rp 220 atau Rp 210 untuk melindungi modal. |
Kesimpulan:
Saham OASA berada pada titik infleksi antara fase “pengenalan proyek” dan “operasional masa depan”. Kombinasi fundamental kuat (proyek berpotensi menghasilkan arus kas stabil), pola teknikal yang menguat, serta dukungan kebijakan nasional membuatnya layak dipertimbangkan sebagai saham pertumbuhan berkelanjutan. Namun, investor harus siap menanggung ketidakpastian pelaksanaan (risk‑timeline) dan menyiapkan stop‑loss yang disiplin untuk melindungi diri dari potensi koreksi teknikal.
Strategi praktis:
- Entry pada pull‑back ke kisaran Rp 242‑Rp 250 (jika volume masih tinggi).
- Target pertama: Rp 258‑Rp 288 (sepanjang minggu berikutnya).
- Target sekunder: Rp 320‑Rp 350 (setelah COD dan konfirmasi pola cup‑and‑handle).
- Stop‑loss: Rp 220 (atau Rp 210 bila ada penurunan tajam di bawah support 20‑hari).
Jika OASA berhasil melewati jalur COD tepat waktu dan menandatangani PPA dengan PLN, potensi multiple (EV/EBITDA) dapat naik hingga 12‑15× dalam 2‑3 tahun ke depan, menjadikannya salah satu pemain utama dalam ekosistem energi terbarukan Indonesia.
Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi jual/beli yang bersifat definitive. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada riset pribadi, toleransi risiko, dan konsultasi dengan penasihat keuangan Anda.